Valentine

ImageTiap pertengahan Februari begini, sewaktu saya masih rajin mengikuti buletin Hizbut Tahrir yang dibagikan tiap hari Jum’at, saya kadang bertanya-tanya kenapa bahasan sejarah Hari Valentine selalu punya porsi yang nyaris satu lembar di buletin yang tebalnya cuma dua lembar itu (sudah termasuk iklan). Bukannya kenapa, tapi pembahasan kerap jadi habis di bagian pembahasan latar belakang sejarahnya saja.

Buletin Hizbut Tahrir bukan satu-satunya – di internet juga tidak sulit menemukan media dakwah online semacam, katakanlah, VOA Islam atau EraMuslim, yang mendedikasikan tulisannya untuk mengupas kejahilan Valentine melalui riwayatnya. Ada yang mengatribusikannya ke “budaya pagan”, ada yang mengatribusikan ke martirnya seorang Santo di abad ke-4, ada yang mengatribusikan ke kisah cinta pendeta di abad pertengahan, dan lain-lain. Riwayat itu hampir selalu menjadi sebab mengapa Valentine merupakan nubuat buruk bagi umat Islam.

Bung Karno memang selalu bilang JASMERAH, tapi dari dulu saya masih bertanya-tanya apa sejarah beratus tahun lalu itu juga masih dipedulikan oleh orang yang berpartisipasi pada Hari Valentine.

Baru belakangan saya paham apa signifikansinya.

.

Archetype Sebagai Pengulangan Sejarah

Dalam setahun, Hari Valentine tentu bukan satu-satunya perayaan yang kita kenal. Sepanjang sejarah, riwayat umat manusia mungkin merupakan kisah yang sangat gemar dengan perayaan, baik itu bernuansa agama maupun yang cenderung non-agama. Dalam tradisi keagamaan, agama Kristen mengenal Natal. Agama Islam mengenal Idul Fitri dan Idul Adha. Buddha mengenal Waisak. Dalam tradisi yang cenderung non-keagamaan, ada upacara kemerdekaan, tahun baru, ulang tahun, dan sebagainya. Itu hanya sedikit sekali dari seluruh perayaan di dunia.

Tapi apa artinya? Mengapa kita tampak gemar sekali dengan perayaan?

Mircea Eliade, seorang antropolog, pernah menyebutkan konsep mengenai archetype. Menurut Eliade, pada pandangan manusia tradisional, dalam setiap hal terdapat sebuah model yang dianggap sebagai bentuk atau keadaan paling ideal umat manusia. Misalnya, kisah tentang Adam dan Hawa di surga adalah model kehidupan manusia yang ideal. Kisah tentang pengorbananan Ibrahim dengan menyembelih anaknya, Ismail, adalah model pengorbanan yang ideal. Kisah tentang perjuangan pahlawan bangsa merebut kemerdekaan Indonesia, pun, adalah model nasionalisme yang ideal.

Oleh Eliade, “model yang ideal” ini disebut sebagai archetype. Ia adalah model yang paling asali (exemplary model), paling cocok untuk dijadikan acuan kehidupan.

Nah, perayaan merupakan cara manusia untuk membawa kembali model yang ideal tersebut. Sebagai seorang antropolog, Eliade menyadari bahwa di tiap tindakan manusia terdapat fungsi laten yang kadang tidak disadari oleh si pelaku sendiri. Fungsi tersebut membantu manusia untuk memaknai tindakan yang dilakukannya.

Melalui perayaan, manusia tidak hanya mencoba melakukan suatu hal just for the sake of doing it. Perayaan mencoba membawa kembali archetype yang diperingati oleh perayaan tersebut. Perayaan berusaha untuk membawa kembali kenangan dari exemplary model yang dimiliki oleh archetype. Perayaan berusaha mereplikasi apa yang terjadi di masa itu. Bisa dibilang, perayaan merupakan upaya manusia untuk mewujudkan ungkapan “sejarah berulang”.

Oleh karena itu, mungkin tidak mengherankan bila kita kadang merasakan gairah nasionalisme dalam 17 Agustus-an atau menjumpai ceramah seperti ceramah Pak Quraish Shihab mengenai Idul Adha. Karena pada esensinya memang gairah seperti itulah yang kita rasakan dalam perayaan.

Pada titik inilah, bagi buletin Hizbut Tahrir atau media dakwah online seperti VOA Islam, latar belakang Valentine yang diasosiasikan dengan kisah pengorbanan seorang tokoh Kristen menjadi sebab yang dianggap cukup mumpuni untuk mengupas kejahilan Valentine bagi umat Islam.

Sebabnya jelas: bila ditilik dari kacamata ini, Valentine berarti mereplikasi archetype pengorbanan seorang tokoh Kristen. Model yang ideal (archetype) dalam Hari Valentine adalah model yang sangat Kristiani. Apalagi tokohnya adalah seorang santo, yang kematian dan peringatannya pun didedikasikan untuk agama Kristen. Untuk dijabarkan di media dakwah, tidak perlu berpikir repot untuk kemudian menyimpulkan bahwa tentu ini bukanlah panutan yang baik bagi seorang Muslim! Hadis ”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka” menjadi sangat relevan.

.

Memaknai Perayaan Valentine

Tentu saja, bila Anda tidak akrab dengan lingkungan dakwah atau mungkin sekedar menganggap perayaan Valentine itu sah-sah saja, argumentasi semacam itu rasanya bisa jadi terdengar sangat janggal.

Hari Valentine bukan Hari Natal – tidak ada orang yang mengatur misa atau pergi ke gereja untuk merayakan Valentine. Bisa disangsikan pula bila zaman sekarang ada seorang Kristiani di Indonesia yang memperingati Valentine atas nama Santo Valentine yang dimartirkan lebih dari satu milenium lalu. Bagi yang merayakannya, lebih penting menyiapkan kocek untuk membelikan coklat atau bunga bagi pasangan daripada mengenang hidup seorang santo yang jasanya juga terlalu jauh untuk dirasakan.

Karena itu juga, mungkin bagi Anda, klaim seperti Hari Valentine mempromosikan seks di luar nikah akan terdengar sangat membingungkan; berangkat dari anggapan bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Valentine dirayakan dengan aktivitas seksual antar-pasangan. Bila Anda memaknai Valentine hanya sebagai hari bertukar kado, berbagi coklat, atau menyayangi pasangan, tentunya Anda cukup cermat untuk tidak serta-merta mengadopsi begitu saja pemaknaan lain yang tidak Anda inginkan.

Perayaan, tak peduli seberapa religius nilainya, merupakan bagian dari kebudayaan. Karena perayaan selalu erat terkait dengan bagaimana manusia yang melakukannya menyelenggarakannya. Dan seperti halnya dengan berbagai hal lain dalam kebudayaan, seiring dengan waktu dan tempat, praktek dan makna sebuah perayaan bisa berubah. Perayaan menjadi penting dalam cara bagaimana orang yang merayakannya memaknainya.

Dalam memaknai hari kemerdekaan saja kita bisa lihat ragam ekspresi yang berbeda. Bagi sebagian dari kita yang terbiasa tinggal di kota, mungkin upacara terlalu seremonial, terlalu kaku dan membosankan. Mungkin dalam memaknai hari kemerdekaan, lebih membanggakan dengan membaca biografi Soekarno, atau mengenakan batik sebagai identitas nasional. Tapi bagi sebagian yang lain yang tinggal di perbatasan, upacara bendera merupakan cara bagi mereka untuk membawa kembali sejarah perjuangan – meski berada di pelosok terluar Indonesia, mereka masih merupakan bagian dari bangsa ini.

Seperti yang pernah diingatkan oleh Talal Asad, juga seorang antropolog, bahwa praktek kebudayaan menjadi praktek kebudayaan bukan karena ia berdiri sendiri, tapi karena struktur dan pemaknaan yang melatarbelakanginya.

.

Penutup: Valentine bagi yang Tidak Merayakannya

Mungkin yang kemudian berkembang di media sosial belakangan adalah amplifikasi dari kebingungan yang pernah saya alami dulu. Sebagai reaksi dari pelarangan atas perayaan Valentine, yang muncul bukan hanya ekspresi independen untuk merayakan Valentine, tapi juga meledek atau justru balik melarang pelarangan perayaan Valentine. Kebutuhan ekspresi untuk merayakan Valentine kadang justru juga disertai dengan keperluan untuk menjatuhkan pihak lain yang berseberangan pendapat.

Di media sosial seperti Facebook dan Twitter, kadang terdapat komentar-komentar sumbang yang menanggapi penolakan atas Valentine. Beberapa mengklaim penolakan terhadap Valentine sebagai sikap yang “sok suci”, atau menggunakan peyoratif “bigot” untuk merujuk pada pihak-pihak yang menolak Valentine.

Padahal, John Rawls, filosof politik, jauh-jauh hari mengingatkan bahwa sebuah masyarakat yang toleran semestinya menoleransi pandangan-pandangan yang dianggap sebagai tidak toleran. Gagasan utama dari masyarakat toleran yang liberal adalah bahwa tidak perlu ada gagasan yang disikapi secara bermusuhan; melainkan yang ada hanyalah ruang tempat gagasan-gagasan tersebut berkompetisi (market of ideas). Sebagaimana gagasan Voltaire, seorang filosof politik lain, mengenai liberalisme dimaktubkan oleh penulis biografinya, “Saya mungkin tidak sepakat dengan pendapat Anda, namun saya akan membela mati-matian hak Anda untuk mengucapkannya.”

Khususnya bila kita mempertimbangkan bahwa pandangan bahwa haramnya Valentine itu merupakan bagian dari paradigma keagamaannya. Bila archetype yang disebut oleh Eliade erat kaitannya dengan pandangan manusia tradisional sebagai manusia yang beragama, maka sebagai masyarakat yang toleran semestinya kita juga menoleransi pandangan agamanya yang mungkin berbeda dengan apa yang kita pahami – selama ia tak bertindak dalam perilaku yang tak sah menurut hukum.

Lagipula, bila Anda merayakan hari Valentine sebagai hari kasih sayang, bukankah adalah kasih sayang yang indah bila diberikan kepada yang berseberangan dengan kita?

.

***

Referensi:

Asad, Talal. 1968. The Idea of An Anthropology of Islam. Washington D.C.: Center for Contemporary Arab Studies Georgetown University.

Eliade, Mircea. 2005. The Myth of Eternal Return. New Jersey: Princeton University Press.

Walzer, Michael. 1997. On Toleration. New Haven: Yale University Press.

Ilustrasi dari: Lonekeep.com, Saint Valentine

Tentang Soldatenkaffee dalam The Jakarta Globe

Mungkin saya termasuk salah satu di antara sebagian orang yang gusar sewaktu mendengar kabar bahwa Soldatenkaffee ditutup. Selama seminggu terakhir, banyak kicauan dan komentar bernada miring yang keluar dari warga internet mengenai Soldatenkaffee ini; dari kecaman soal etika hingga tudingan bahwa si pemilik kafe “buta sejarah” dan “idiot”.

Memang Soldatenkaffee ini cukup mencolok karena membawa tema yang tidak biasa: memorabilia militer Jerman dan atribut Nazi di saat Perang Dunia II.

Saya sendiri sudah dengar tentang kafe ini kira-kira sekitar satu setengah tahun lalu, sewaktu ada teman yang berkunjung. Aslinya saya biasa saja; tidak begitu heran kalau ada kafe seperti ini di Bandung, berhubung dulu sempat beberapa kali dapat e-mail dari komunitas peminat serupa sewaktu masih rajin menggeluti seluk-beluk PD II dan pernak-pernik Nazi, dan kedua, ya sekarang sudah tidak begitu berminat lagi, jadi semangatnya sudah tidak sebesar dulu.

Yang mengusik saya adalah sebab si pemilik kafe terpaksa menutup bisnisnya yang sudah berjalan dari 2011:  “tekanan media internasional” dan “protes dan ancaman”. Memang tidak main-main – Soldatenkaffee ini betulan diliput oleh HuffingtonPostLeMonde, dan JerusalemPost.

Selidik punya selidik, gara-garanya konon datang dari sepucuk artikel besutan The Jakarta Globe, “Bandung Cafe’s Nazi-Kitsch Theme Sparks Some Uncomfortable Questions“. Selang berapa hari setelah liputan itu terbit, liputan serupa dengan nada yang lebih tendensius juga terbit di media internasional.

Selang lima hari, Soldatenkaffee ditutup.

Dan sehari lagi setelahnya, The Jakarta Globe menulis tanggapan untuk pemilik Soldatenkaffee [yang kabarnya akan menuntut The Jakarta Globe karena telah mengganggu bisnisnya].

“Kami Tidak Mereka-reka Fakta, Tapi Memberikan Konteks”

Banyak yang bisa dikomentari mengenai perkara ini, misalnya seperti kericuhan warga internet Indonesia yang trauma dengan peristiwa yang tidak pernah dialaminya.  Pun yang lebih mengusik saya sejak awal adalah pihak redaksi The Jakarta Globe.

Di tanggapannya terhadap pemilik kafe Soldatenkaffee, redaksi The Jakarta Globe menuliskan beberapa poin yang membantah tudingan yang, menurut redaksi, dituduhkan ke mereka atas liputan berita yang jadi sumber perkara. Ada satu poin yang menarik untuk disimak,

As editors, we have a duty to add context to a story, and not to make up facts. And that was precisely what we did for this story.

Di media sosial, saya memang sempat melihat ada beberapa pihak yang menuding The Jakarta Globe “mereka-reka fakta” terkait wawancara mereka dengan Henry Mulyana, pemilik Soldatenkaffee. Tudingan ini ditujukan pada bagian di mana The Jakarta Globe memuat: 1) bahwa Henry merasa tidak ada bukti terjadinya Holocaust di Perang Dunia II; 2) Henry menyatakan memasang foto Hitler hanya untuk melengkapi tema restorannya; 3) Henry mengaku tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi.

Tudingan sebagian pihak terhadap Jakarta Globe yang “merekayasa fakta” memang salah – tidak ada yang lebih tercela dalam jurnalisme selain merekayasa liputan berita. Bisa dilihat sendiri kesalahan fatal yang dilakukan TVone dengan memalsukan narasumber tempo hari.

Tapi poin yang dikemukakan Jakarta Globe juga tidak bernilai lebih dari sekedar dalih. Masalahnya, justru perkara ini timbul lantaran Jakarta Globe “memberikan konteks”.

JakGlobe-Nazi-Cafe

Dari awal liputan, redaksi Jakarta Globe sudah menggiring opini dengan menuliskan, “ketiadaan pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah [...] dianggap menjadi penyebab diterimanya restoran yang berselera buruk.” Heading ini ditulis persis di bawah judul yang menyebutkan soal “Bandung Nazi Cafe”. Setelah heading, di paragraf-paragraf awal, Jakarta Globe melanjutkan dengan memuat justifikasi Henry untuk mendirikan kafe ini, bahwa “semua pihak saling membunuh dalam perang.”

Pun yang menjadi penentu terletak di bagian tengah artikel, di mana redaksi Jakarta Globe memuat dua pernyataan Henry yang, bila dimuat tanpa tendeng aling-aling, bisa menjadi pernyataan yang paling konyol: Henry “memasang foto Hitler hanya untuk melengkapi tema kafenya” dan “sebenarnya tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi”. Dua pernyataan ini dipasang berdekatan untuk memberikan kontinuitas.

Kemudian di bagian selanjutnya, The Jakarta Globe menutupnya dengan pamungkas melalui wawancara dengan orang lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan Soldatenkaffee – seorang regular joe, yang bisa jadi merepresentasikan saya, Anda, tetangga Anda, atau siapa saja – di mana yang bersangkutan menyatakan bahwa dalam pendidikan di Indonesia, tidak pernah ada pengajaran tentang ketegangan antar-etnis di tanah air. Di tanah air saja lewat, bagaimana pula dengan yang di Auschwitz di sana?

Dan paragraf sisanya hanya pemanis.

Dengan “memberikan konteks” yang sedemikian rupa, Jakarta Globe berupaya membentuk narasi yang mengesankan bahwa sang pemilik kafe, Henry Mulyana, hanyalah “seorang Indonesia biasa” yang “tidak akrab dengan sejarah dunia” dan “mengomersialisasikan simbol-simbol kekejaman untuk alasan murahan.” Ditambah lagi, baru seminggu sebelumnya, media internasional sempat mengungkit soal grafiti Hitler bersama para superhero dan Hitler Fried Chicken di Thailand.

Apakah upaya The Jakarta Globe berhasil?

Sukses berat. Komentar-komentar yang membawa sentimen seperti itu bertebaran; baik di kolom komentar Jakarta Globe, maupun di kicauan media sosial.

Sepintas Soal Framing Media

2013-JakGlobe-Media-Framing

Gambar di atas ini adalah salah satu gambar yang sering beredar di internet untuk menggambarkan situasi yang terjadi pada pemberitaan Soldatenkaffee oleh The Jakarta Globe.

Yang dilakukan oleh The Jakarta Globe tidak salah. Justru sebaliknya – ini adalah cara yang sah bagi media untuk mengambil posisi pemberitaan mereka. Media memang tidak dianjurkan untuk memihak, namun media boleh untuk menampilkan apa yang ingin mereka tampilkan, dan tidak menampilkan apa yang tidak ingin mereka tampilkan. Media bisa menampilkan hanya sepotong kutipan saja dan menampilkan kutipan lain yang seakan mengisi kutipan tersebut – seperti yang dilakukan The Jakarta Globe. Media juga bisa mengubah diksi – seperti halnya sebagian media yang menyebut Hamas di kasus Palestina sebagai “pejuang Hamas”, sementara sebagian media lain menyebutnya sebagai “teroris Hamas” atau “pemberontak Hamas”.

Dalam studi media, ini disebut framing. Seperti halnya frame, cara narasi yang seperti inilah yang membingkai pembaca pada sudut-sudut yang ingin media tampilkan kepada pembaca. Framing ditujukan untuk menyelaraskan dengan agenda yang dibawa oleh media (agenda setting) yang bersangkutan.

Dengan melihat pemberitaan tentang Hitler di Thailand, jumlah pembaca The Jakarta Globe yang merupakan ekspatriat dan/atau kelas menengah, serta isu mengenai hubungan antar-etnis dan minoritas yang kerap dibawa oleh The Jakarta Globe, wacana tentang Soldatenkaffee ini jelas merupakan wacana menarik bagi redaksi.

 

Tidak “Buta Sejarah”

Bila yang nomor satu mengusik saya adalah The Jakarta Globe, yang kedua adalah celaan bahwa sang pemilik Soldatenkaffee dapat dipersepsikan sebagai “seorang Indonesia biasa” yang “tidak akrab dengan sejarah dunia” dan “mengomersialisasikan simbol-simbol kekejaman untuk alasan murahan.”

Masalahnya: tuduhan itu sangat tidak adil. Sang empunya kafe, Henry Mulyana, merupakan bagian dari komunitas Indonesia Reenactor (IDR). Komunitas ini bisa dibilang sebagai salah satu komunitas yang khatam segala pernak-pernik Perang Dunia II, khususnya sejarah militer Jerman. Awalnya berasal dari nama Indonesisch Das Reich, yang mendedikasikan diri spesifik hanya pada Jerman saja. Pun kemudian jadi lebih luas dan juga mencakup sejarah militer kawasan lain.

IDR sebagai reenactor bukan cuma khatam sejarah militer, tapi juga mengoleksi memorabilia dan mengenakan seragam di acara-acara umum. Beberapa di antaranya bisa dijumpai di pekan hobby seperti Toys Fair Jakarta tempo hari. Kalau tidak salah sempat hadir juga di HelloFest. Soldatenkaffee ini pun dibuat sebagai perpanjangan dari hobi reenactment tersebut.

Mengingat latar belakang yang demikian, apa bisa menilai Henry Mulyana sebagai pihak yang buta sejarah, seperti ditudingkan beberapa komentar?

Memang saya secara pribadi tidak kenal dengan yang bersangkutan. Saya hanya “mengenal” yang bersangkutan melalui intipan serampangan diskusi di milis dulu atau mendengar namanya dari beberapa pihak yang saya ikuti di Twitter. Tapi sangat ganjil rasanya bila orang yang diklaim “buta sejarah” bisa mengikuti komunitas sedemikian – yang tingkatnya sendiri sudah jauh di atas yang saya kuasai.

Mungkin kemudian akan ada pertanyaan: jikalau yang bersangkutan memang fasih, kenapa bisa keluar pernyataan “tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi?”

Kalau yang dilakukan The Jakarta Globe memang cuma framing, bukannya pernyataan itu seharusnya niscaya?

Untuk ini, saya memang hanya bisa menduga, tapi saya kira satu hal: mengakrabkan diri dengan Nazisme itu tidak mudah.

Perlu diketahui: Nazisme adalah ideologi politik yang menyebalkan dan sulit untuk dipelajari. Pertanyaan mudah bisa diujikan ke pihak-pihak yang merasa tahu: berapa yang masih kerap kali menyamakan gagasan mengenai Nazisme dan Fasisme?

Di lingkar akademisi, Roger Griffin pernah berujar bahwa Nazisme tidak melulu konsisten dengan keranga kerja fasisme. Aspek korporatisme ala fasisme Italia, misalnya. Korporatisme yang ditengarai Jonah Goldberg berakar dari industrialisme Fordisme – yang mungkin kerap juga kita jumpai pada gagasan ekonomi liberalisme klasik – sama sekali tidak ditemui dalam Nazisme yang diterapkan oleh Hitler. Dalam hal kontrol ekonomi, Hitler lebih percaya dengan kekuatan mandiri dan membuang jauh-jauh pengaruh besar industrialis. Yang disebut Mussolini bahwa “fasisme adalah sebuah penyatuan antara para korporat dengan negara” tidak terjadi dalam Reich Ketiga Jerman.

Dalam hal diskriminasi rasial juga sama. Apa yang kerap disebut sifat fasis yang anti-semitik, yang memacu ketegangan antar-etnis, lebih tepat bila dijatuhkan pada Nazisme. Kadang orang lupa bahwa fasisme bukan cuma berputar di poros Axis Perang Dunia II, namun juga di Brazil dan Spanyol. Tapi jangankan di Brazil dan Spanyol; korporatisme-fasis Mussolini saja tidak mencakup diskriminasi Yahudi hingga kongres internasional di tahun 1934. Apa yang kerap dikenal orang sebagai Nazisme itu lebih menyerupai seperangkat ideologi yang lebih banyak didengungkan Goebbels dan Himmler ketimbang Hitler sendiri.

Ini yang kemudian bagi saya menjadi cukup masuk akal bila pemilik Soldatenkaffe berujar – atau mungkin silap – bahwa yang bersangkutan “tidak begitu akrab dengan Naziisme”. Karena toh Henry Mulyana, sebagai bagian dari komunitas Indonesia Reenactor, lebih merupakan antusias militer Jerman ketimbang pendalam Nazisme.

Memang khusus pada bagian ini saya baru bisa menduga. Namun saya kira juga tidak bijak menilai kredibilitas penikmat sejarah secara terburu-buru hanya dari reportase media yang sebingkai saja.

Selebrasi Diri

Sejujurnya menyiapkan tulisan yang dikhususkan untuk hari-hari tertentu seperti ini tidak selalu mudah, bagi saya. Ada kalanya memang ada yang ingin disampaikan, tapi ada kala lain di mana hari itu ya berlalu begitu saja seperti hari-hari lainnya. Bisa jadi karena memang tidak ada yang spesial, bisa jadi karena sebenarnya ada–tapi terlanjur terbenam di kesibukan lain yang sudah mendahului dari hari-hari sebelumnya. Kalau melihat dari tulisan yang dimaksudkan untuk selebrasi tanggal 16 November saja, ada yang cukup thoughtful seperti yang saya tulis tahun lalu, tapi ada pula yang lainnya yang bisa membuat dahi mengernyit lantaran kurang nyaman dibaca (apa sebenarnya  tujuannya saya menulis seperti itu?).

Saya tidak ingin menyalahkan social media/social network sites, meski memang harus diakui bahwa waktu saya untuk berselancar di internet bisa dibilang hampir 50%-nya direbut oleh aktivitas di situs-situs tersebut. Berbeda dengan menulis di blog ini, menulis di media macam itu tak perlu banyak berpikir panjang; lempar saja apa yang ada di pikiran, kalau ternyata susunan kalimatnya seburuk rupa Ephialtes, atau gagasannya seamburadul tulisannya John dari Edessa, tak jadi masalah karena bisa langsung dikoreksi atau dikritik kemudian.

Bukannya saya bilang blog ini tak bisa dijadikan sarana diskusi atau koreksi atau kritik; tentu saja bisa, seperti yang sudah berlangsung selama ini, tapi selain memerlukan gagasan yang lebih matang, penuturan kata per paragraf pun sebaiknya juga mesti saya tulis agar bisa dipahami. Lain dengan Twitter misalnya, yang tak perlu alur yang terlalu baik. Toh juga kultwit juga tidak bisa dibilang enak dibaca. :P Biasanya saya memang memfasilitasi situs-situs macam itu untuk merampungkan hal-hal yang masih sangat mentah; bila blog ini macam Starbucks (karena sudah tak ada lagi yang minum di warkop), mungkin anggapannya situs-situs itu macam berdialog dengan diri sendiri ketika membuang hajat (komparasinya jelek sekali memang, tapi kira-kira seperti itu). Dan lagi, update status macam itu bisa dilempar secara berurutan tanpa perlu mempunyai korelasi sama sekali antara satu sama lainnya.

Jadi ketika saya memutuskan untuk menulis lagi di blog ini untuk selebrasi tahunan, saya mesti berpikir dulu dengan jernih: apa yang mau saya sampaikan, apa yang mau saya tulis?

Sayangnya memang berhubung sudah tidak menulis secara reguler lagi (selain merampungkan skripsi yang ditulisnya juga seenak maunya saja), kemampuan saya terasa agak-agak mandul. Satu-satunya kegiatan menulis yang masih secara aktif dilakoni cuma bermain text-based RPG (sebenarnya saya kurang nyaman dengan istilah ini, lebih nyaman menyebutnya sekedar roleplay) di beberapa forum saja. Sebutlah forum yang saya urus, Gotei13 RPF. Dan beberapa forum lain. Meski sama-sama menulis, tapi gaya permainan di forum-forum seperti ini entah kenapa budayanya memang lebih berorientasi ke arah “bermain” ketimbang benar-benar menulis (seperti di blog).

Makanya menjadi cukup remarkable ketika saya menulis selebrasi yang masih bisa dibaca untuk beberapa tahun ke depan seperti yang saya tulis tahun lalu itu. Untuk itu–dan berbagai macam hal lainnya yang tak terhitung, tentu–mungkin saya harus berterima kasih sangat banyak pada pacar saya (sekarang sudah mantan), karena kalau menilai dari tulisan-tulisan selebrasi saja, cuma itu yang bisa dipandang cukup reflektif sebagai manusia (kalau meminjam ungkapan teman-teman, yang meluluhkan hati seorang robot :lol: ). Sekarang rasanya tumpul kembali, di-combo dengan hal-hal lain yang sudah saya tinggung di awal tulisan jadinya malah semakin buruk saja.

Padahal pada selebrasi kali ini, saya seharusnya sudah tidak bisa masuk penjara anak-anak lagi kalau berbuat kriminal; dan entah kenapa patokan umur macam ini selalu saya anggap spesial, mungkin karena terlalu sering terpengaruh oleh macam-macam budaya yang merayakan adulthood.

Mungkin, seiring dengan umur yang menginjak platform yang baru, blog ini juga akan saya bawa ke platform baru–hostingan sendiri. Selain supaya untuk memacu produktivitas menulis (rugi dong udah bayar masa ditelantarkan), meyeleksi tulisan-tulisan dan sortir kategori, juga karena kegatelan saya untuk mempersonalisasi wadah tempat saya menuangkan tulisan-tulisan ini. Yah bahkan toilet pun masih dipoles, apa salahnya kalau blog tidak? :D

…tapi tentunya ini masih wacana.

Satu, saya masih khawatir soal blog of the day (meski rasanya makin irelevan karena siapa sih yang masih mengandalkan fitur itu?) dan hasil search engine yang seringkali merujuk pada postingan-postingan mengecewakan di WordPress.com. Kedua, terbukti dari yang sudah-sudah, kalau saya bilang “saya akan mulai melakukan X lagi!” yang ada pastinya tertunda. :mrgreen:

Jadi lebih baik tidak dijadwalkan. :P

——

P.S.: …bahkan untuk mempublikasikan tulisan ini sendiri butuh jeda waktu yang sangat lama (29 November). Sudah di-draft sejak sebelum tanggal 16 November, tapi baru dipublikasi sekarang. Namun untuk menjaga konsistensi (dan memudahkan saya tracking) marilah kita sematkan pada tanggal 16 November 2012 saja ya? :mrgreen:

Entri 1015

Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.

Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu–yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, ibu juga membawa kue. Untuk dimakan bersama. Biasanya tidak habis di malam itu–meski porsi makan saya memang meningkat sejak 10 tahun terakhir–dan kuenya akan disimpan untuk esok hari. Siapa pun yang ingin santap cemilan, bisa mengambilnya di kulkas. Termasuk asisten rumah tangga di rumah, yang  sudah bekerja sejak saya lahir; serasa seperti kerabat sendiri.

Pagi dan siangnya, kadang saya akan menerima ucap senada. Pemberian selamat dari teman-teman sekolah yang tersenyum penuh rupa. Tentunya, selayaknya orang Indonesia, saat itu pula saya, seakan mematuhi peraturan tidak tertulis, perlu merogoh sedikit kocek dan menyenangkan ibu-bapak penjaga kantin–paling tidak, dulu saya pikir begitu–yang tiba-tiba kedapatan pemesanan porsi makan lebih banyak. Tapi memang tidak selalu. Ada tahun-tahun di mana hari seperti ini berlalu begitu saja sekolah. Begitu juga bila hari seperti ini terjadi di hari libur, Sabtu dan Minggu.

Baca lebih lanjut

Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan

Viva la Revolucion..?

Viva la Revolucion...?!

Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (social media; macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara Social Media Festival di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula International Conference on Social Media Cultures di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya diberi kesempatan untuk menghadiri (bersama Lemon S. Sile).

Dari Sabtu kemarin (24/9) hingga entri ini ditulis (26/9), saya lihat di timeline Twitter masih ramai membahas tentang pengaruh besar media sosial. Maka dari itu, pikir saya, mungkin untuk sekedar menambah perspektif tentang riuh-rendah media sosial masih belum terlalu terlambat. Lagipula, supaya blog ini tidak melompong melulu (beberapa waktu lalu juga sempat ditagih bung reinhart :P ).

Saya hendak menyoroti satu aspek yang nampaknya jadi salah satu alasan kenapa media sosial nampak begitu besar pengaruhnya bagi kemaslahatan umat manusia: social media activism. Aktivisme melalui media sosial.

Baca lebih lanjut

Balada [Mencoba] Blogging Kembali

Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah menulis materi baru lagi di blog. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal satire PKS atau jenggot teori Darwin). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs microblogging macam Plurk dan Twitter.

Februari kemarin sempat coba menulis lagi, tapi gagal di tengah jalan. Cuma satu entri dihasilkan (sebenarnya dua, dengan satu disclaimer); blogwalking pun tiada dijalankan. Padahal tidak afdhol itu blogging kalau tidak blogwalking; ibaratnya cuma meracau di kamar sendiri saja.

Pasalnya, [mencoba] blogging lagi setelah vakum berbulan-bulan itu ternyata, bagi saya, memang sulit. Terutama karena saya melanjutkan blog lama.

Lalu…? >>>

Al-Qaeda, Osama bin Laden, dan Riwayat Singkatnya

“Kover majalah TIME bulan Mei 2011″

Hari Senin, awal Mei kemarin, Osama bin Laden diumumkan tewas. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti @benny_israel (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira cukup beralasan kalau muncul sejumlah kecurigaan atas kematian bin Laden (walau saya tidak sepakat dengan argumen-argumennya).

Kontroversi dan berbagai praduga seputar kematian bin Laden bukan yang ingin saya bahas kali ini; sebaliknya, saya kira justru lebih relevan kalau memperjelas dan mengenal siapakah sebetulnya si Osama bin Laden ini.

Sebelum pengumuman tentang kematiannya, sering ada orang-orang yang menampik sosok bin Laden sebagai “buatan Amerika Serikat”; tapi dalam riwayat perjalanannya, bin Laden berinteraksi dengan berbagai orang, dari kerabat sampai wartawan. ‘Kan tidak mungkin orang-orang itu berhalusinasi sedang berinteraksi dengan bayangan imajiner bin Laden?

Jadi, mengikuti slogan khas lembaga dakwah, “tak kenal maka ta’aruf”, mari telusuri dulu perjalanan hidup si America’s Public Enemy #1 ini.

Baca lebih lanjut