Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi katanya juga ada di Biologi), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata kuliah yang bernama Metode Penelitian Sosial (MPS).
Di salah satu pembahasan mengenai metode kuantitatif, dibahas mengenai cara membuat kuesioner. Ya, bagi yang belum tahu, metode kuantitatif ini memang erat kaitannya dengan kuesioner, data-data survei, sampel, dan–menurut kesan sebagian orang–angka.
Penelitian metode kuantitatif melibatkan peneliti hanya sebagai peneliti. Ia tidak bersifat seperti metode kualitatif, di mana sang peneliti harus melibatkan dirinya bersama dengan “yang diteliti” melalui observasi langsung, misalnya. Perkara detil lebih lanjutnya, itu cerita lain untuk saat ini.
Kembali ke topik.
Untuk membantu membuat kuesioner yang akurat, peneliti dianjurkan untuk membedakan tipe-tipe dari isi pertanyaan yang akan ia ajukan menjadi lima bagian: behaviour, beliefs, knowledge, attitudes, dan attributes. Jadi, suatu pertanyaan itu ada tipe-tipenya sendiri; tipe pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan tipe jawaban yang berbeda pula. Masing-masing sudah dibagi dalam lima bagian tersebut.
- Tipe pertanyaan behaviour menyelidiki “apa yang responden lakukan”. Pertanyaan ini didesain untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh responden. Contoh mudahnya, pertanyaan seperti “apakah Anda bekerja di perusahaan swasta?” termasuk tipe pertanyaan behaviour.
- Tipe lainnya, yaitu tipe belief, didesain untuk menyelidiki “apa yang responden percaya”. “Yang mereka percaya” dalam hal ini bukanlah mengenai kepercayaan atau agama mereka, namun lebih mengenai “apa pandangan mereka akan suatu hal”. Pertanyaan “apakah Facebook memengaruhi prestasi anak?” adalah contoh pertanyaan belief.
- Tipe pertanyaan knowledge menyelidiki “apa yang responden ketahui”. Pertanyaan tipe ini ingin melihat pengetahuan responden mengenai situasi-situasi tertentu, misalnya seperti, “apa yang Anda ketahui tentang kebijakan kenaikan harga BBM?”
- Sementara, tipe pertanyaan attitude ingin mengetahui “apa yang diinginkan oleh responden”. Pertanyaan jenis ini melihat tanggapan responden mengenai “sebaiknya bagaimana” dalam melihat kasus-kasus tertentu–ia menyelidiki bagaimana responden melihat orang lain secara umum. “Apakah single-parent sebaiknya bekerja?” adalah contoh pertanyaan attitude.
- Terakhir, tipe pertanyaan attribute menanyakan data diri dari si responden. Ibaratnya game RPG, ia menanyakan level, status STR, VIT, DEX, dan AGI responden.
Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan umur, tingkat pendidikan, atau tingkat pendapatan adalah tipe pertanyaan attribute.
***
Nah, dalam pembahasan kelima hal tersebut, saya menemukan satu poin yang agak “menyentil”. Dalam buku karya David de Vaus yang saya baca tersebut, pada bagian pertanyaan behaviour, dituliskan oleh si penulis,
“[...] Tapi, peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran behaviour untuk mengukur belief dan attitude. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...] karena orang bisa jadi tidak memiliki kesempatan untuk bersikap seperti apa yang mereka inginkan.”
Pertama kali membaca paragraf tersebut, tidak ada yang terbesit di benak saya. Biasa saja. Tapi setelah membaca kedua dan ketiga kalinya… hei, benar juga ya?
Mari terlebih dahulu kita lepaskan diri kita dari kerangka “akademis”.
Lupakan sejenak bahwa hal ini dipelajari dalam suatu mata kuliah–yang notabene membuat sebagian orang jenuh karena pakem-pakemnya–dan anggaplah sebagai bacaan biasa. Lima tipe tadi, jangan dianggap sebagai “tipe-tipe pertanyaan dalam membuat kuesioner”.
Pada dasarnya, lima tipe pertanyaan tadi–yang menurut saya filosofis–sebenarnya justru dapat menuntun bagaimana kita sebaiknya menilai orang lain. Tipe-tipe pertanyaan tersebut bukan semata “alat” yang digunakan untuk membantu pembuatan kuesioner demi penelitian saja, tapi rupanya juga bisa digunakan di kehidupan sehari-hari!
Mengapa demikian?
Mari kita lihat kembali peringatan yang ditulis oleh David de Vaus dalam bukunya itu, seperti yang telah saya kutip di atas.
“[...] peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran behaviour untuk mengukur belief dan attitude. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...]“
Apa yang bisa disimpulkan dari pernyataan tersebut?
Sederhana saja: suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya. David de Vaus mencontohkannya sendiri dengan sederhana: pengukuran behaviour tidak bisa digunakan untuk mengukur belief dan attitude. Ibarat mau mengukur kecepatan cahaya, yang digunakan malah rumus untuk mengukur massa benda.
Bila masih terlalu abstrak, mari kita gunakan contoh.
Ambil lah persoalan behaviour itu tadi. Katakanlah, si Bambang terdaftar di suatu Kerohanian Islam. Ini berarti, secara behaviourial (apa yang Bambang lakukan), Bambang adalah anggota Kerohanian Islam. Nah, tapi, apakah fakta bahwa Bambang terdaftar sebagai anggota Rohani Islam berarti serta-merta hal tersebut memengaruhi belief (pandangan) dan attitude (sebaiknya bagaimana) Bambang? Memang, asumsinya, seorang anggota Rohis mestinya memiliki belief dan attitude yang bernuansa Rohis pula. Tapi faktanya?
Oh, belum tentu!
Banyak faktor mengapa si Bambang mendaftar ke dalam Rohis. Memang, bisa jadi, motivasi agama adalah salah satunya–dan barangkali yang paling sering ditengarai orang. Tapi, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain. Seperti, misalnya, ternyata teman-teman Bambang ingin mendaftar jadi anggota Rohis. Karena itu si Bambang ikut-ikutan. Atau, si Bambang ini ingin menambah pengalaman berorganisasi, dan kebetulan yang paling gampang adalah dengan jadi Rohis. Atauuu, di Rohis ini ada gadis cantik muda belia yang Bambang senangi; jadi, supaya lebih mudah PDKT, kenapa tidak jadi Rohis juga?
Bila dilihat, kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa dibilang hampir sama sekali tidak ada hubungannya dengan organisasi itu sendiri: agama. Lha, iya, yang lainnya itu kan pengaruh psikologis dan sosiologis semua. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Oleh karena itu, si Bambang yang anggota Rohis ini, belum tentu akan bersikap seperti yang diasumsikan oleh orang lain layaknya anggota Rohis.
Nah, itu satu hal contoh dari behaviour. Apakah tipe lain seperti knowledge, attitude, atau attribute juga bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari? Tentu saja bisa!
Kita ambil contoh knowledge. Misalnya saja, si Rudi ini mengetahui banyak hal mengenai Marxisme. Ditanya sejarah perkembangannya, dia lancar menjawab. Ditanya teori pos-Marxisme, dia fasih menjelaskan. Secara knowledge (apa yang diketahui), si Rudi mapan. Nah, tapi, apakah serta-merta pengetahuannya itu menjadikannya seorang Marxis–atau bahkan komunis? Oh belum tentu. Secara behaviour, ia tidak tergabung di partai buruh manapun. Belief-nya malah sangat liberal; mendukung pasar bebas!
Contoh lain: attribute. Yang ini lebih sederhana lagi. Bila ada seorang beragama Islam (attribute-nya Islam), apakah ia pasti berarti menganggap khilafah Islamiyah cocok bagi Indonesia (belief-nya Islam politik)? Apakah ia pasti berarti ikut organisasi Islam (behaviour-nya organisasi Islam)? Atauuu, apakah bila ada seseorang berattribute agama Yahudi, apakah ia pasti memiliki belief Zionisme Yahudi?
Belum tentu, ‘kan?
Begitu pula dengan belief dan attitude. Orang dengan belief Facebook dapat membuat orang malas belum tentu knowledge-nya tentang Facebook sedikit–ia bisa jadi sangat ahli; atau orang dengan attitude merasa bahwa sebaiknya anak SMA tidak menyontek juga belum tentu behaviournya tidak menyontek–karena alasan apapun.
***
Demikian, sesi pembelajaran metode penelitian kuantitatif pada mata kuliah MPS justru mengingatkan saya pada satu hal: bahwasanya kita tidak bisa menilai orang semata dari salah satu karakteristiknya. Yah, meminjam ringkasan bahasa de Vaus sendiri: “suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya”.
Seorang koruptor bisa jadi memiliki pandangan ideal mengenai keadilan dan kesejahteraan negara, namun terpaksa terjerat dalam lingkar korupsi karena lingkungan memaksanya berbuat begitu. Seorang yang berjenggot tebal dan panjang bisa saja semata memanjangkan jenggotnya itu karena tren, bukan karena ia seorang pengunjung mesjid yang rajin. Seorang yang tidak tahu-menahu mengenai agama selain Islam, belum tentu ia berarti jadi seorang radikal yang membenci umat agama lain. Seorang yang mendukung gerakan sejuta Facebooker di Facebook belum tentu benar-benar berpandangan sesuai dengan visi gerakan itu, bisa jadi ia hanya ingin numpang komentar atau asal menerima ajakan saja. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya…
…
Sudahkah Anda memastikan metode pengukuran Anda sesuai hari ini?