Retraktil

Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar — bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis menuju Jum’at ini hanya sekedar pergantian hari biasa — seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang spesial sama sekali. Kalau bagi sebagian lainnya lagi, ini pertanda umur bumi makin tua, umur kita makin tua pula. Pertanda semakin berkurangnya sisa waktu hidup di dunia.

Para sebagian dari sebagian-sebagian itu setidaknya sepakat–terlihat demikian–untuk setuju pada satu pertanyaan (atau pernyataan) yang sama: untuk apa merayakan tahun baru?

Dua tahun lalu, ketika itu saya masih SMA. Barangkali sudah bagai ritual tahunan keluarga, saya biasa berkumpul di rumah nenek bersama saudara-saudara lainnya, menunggu bersama hari berganti sembari menyalakan kembang api. Tapi dua tahun lalu, atas inisiatif ayah, saya –kami– merayakannya dengan sedikit berbeda, yaitu pergi ke tempat lain. Di mana orang merayakannya dengan makan dan, mungkin seperti yang dikatakan oleh yang merasa relijius, berfoya-foya.

Saya biasanya tidak melihat ritual tahun baru a la keluarga selain sebagai kebiasaan; bila tidak dilaksanakan, maka rasanya tidak nyaman. Terutama perihal kembang apinya. Itu saja. Demikian, saat itu saya tak melihat inti dari diadakannya “ritual” yang agak berbeda. Dan saya pun saat itu bertanya-tanya, untuk apa merayakannya dengan berpesta?

Mungkin pertanyaan demikian juga yang terlintas, bila merasa perayaan tahun baru–apapun wujudnya–tak dirasa perlu. Perihal tidak perlu memeringati umur yang berkurang, tidak perlu memeringati akhir yang sudah dekat, atau merasa bahwa pergantian hari ini sama artinya dengan pergantian hari lain. Mungkin.

Dua tahun yang lalu itu, saya bertanya-tanya. Untuk apa perayaan tahun baru. Dan ayah saya yang menjawab. “Orang merayakan tahun baru,” ujarnya, “untuk berharap, supaya tahun yang datangnya dirayakan dengan meriah dan semenyenangkan itu, bisa berjalan semeriah dan semenyenangkan itu pula. Sampai tahun berikutnya datang lagi.”

Saya awalnya tidak begitu meresapi kalimat beliau. Tapi saat ini saya kira ayah ada benarnya. Bila tahu bahwa dengan tahun baru umur kita akan berkurang, bahwa hidup di tempat ini tak bisa selamanya, maka setiap kali hal itu –pasti– akan datang, sambutlah dengan gembira. Untuk menghadapi hal tak terelakkan itu dengan gembira pula. Tentu, dengan cara masing-masing. Dengan kembang api, dengan berpesta, dengan berjalan-jalan, dengan berzikir, atau dengan berdoa. Karena apa yang menggembirakan satu orang belum tentu berlaku pada yang lainnya.

Tahun yang akan datang ini, bagi saya, akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu semangat menolong persiapan tahun baru, yang biasa merekam awal tahun, sudah tak bisa melakukan kebiasaannya. Alasan untuk bersedih diri tapi tak semestinya dilakukan, karena, perayaan tahun baru tidak ditujukan supaya membentuk tahun yang sedih. Namun justru sebaliknya.

Selamat tahun baru 2010.
Semoga segala hal yang tak diinginkan tertinggal di saat sebelumnya.
Semoga segala hal yang lebih baik menyambut di saat berikutnya.

Salam. :)

bahana suara

Saudara-saudara, namanya juga bukan entitas maha sempurna layaknya Tuhan, ada saat ketika manusia menjadi khilaf. Berbuat salah, berkeliruan. Alias di antaranya adalah lupa. Tidak ingat — tidak bisa mengingat kalau ada media yang sudah digenggam sejak usia masih menginjak masa pubertas yang labil. Lantaran beragam prasarana populer lain yang menjamah khalayak luas sedang menjamur, mungkin bisa jadi alasan. Tapi naga-naganya kekhilafan itu ya tetap kembali ke orangnya sendiri.

Jadi begini, saudara-saudara. Baru selang beberapa hari yang lalu, sebuah acara digelar di Balai Sidang BNI Depok, Universitas Indonesia. Bukan perkara membahas penegakan syariah atau pesta hura-hura, melainkan sebuah konser musik dengan tampilan ensembel dan orkestra.

Nah, lantaran gencar promosi di berbagai media, fasilitas yang sudah ditekuni dari tahun 2007 ini justru kemudian terlupa. Berkicau lewat Twitter memang efektif adanya, begitupun ber-SPG melalui Facebook. Plurk sebagai sarana curahan santai tak kemudian ketinggalan. Seakan sudah merajai kontestasi SEO, untaian kata diulang-ulang di dunia maya agar menarik minat pengunjung yang bisa jadi akan setia. Eh kok ya, blog yang katanya jadi kandang sendiri malah tertinggal. Diselingkuhi oleh selir-selir social networking baru yang indah nian parasnya.

Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur. Hobi yang setahun lalu gemar digeluti pun hanya bisa icip sedikit remah sisa penjualan. Padahal dulu bagaikan amplop dengan perangko — gelisah sedikit saja, ratusan kata terketik untuk ditafsir beragam makna. Ibarat proverbia orang Jawa, internet tanpa blogging itu bagai ora sego ora mangan (belum [makan] nasi, belum makan).

Akhirnya, apa yang bisa dipersembahkan? Kampanye poster untuk acara lampau barangkali sudah usang, relevan pun tidak — macam mana orang akan peduli pula. Atas alasan itu bisa jadi sejak nenek moyang masih melaut, orang gemar menulis jurnal. Kenang-kenangan; riwayat dari serangkaian perjalanan hidup untuk ditengok di masa nanti.

Pun karena masa juga berkembang, maka bukan sekedar jurnal yang bisa saya hadirkan. Kemalasan dan ketidaksempatan barangkali bukan alasan, walau memang gambar konon berujar seribu bahasa. Demikian, saya sajikan konser musik Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra, pada acara Home Concert “An Enchanting Evening with Mahawaditra”, Balai Sidang BNI Depok, Jum’at 11 Desember 2009.

Bilamana pertanyaan perkara saya bermain atau tidak, maka jawaban yang tersuguh adalah iya — namun bukan isyarat saya penting yang ahli nian. Masih berlatih, sekedar pendukung dalam orkes yang besar. Mengesampikan ucapan penutup lain, kiranya saya ucapkan: selamat menikmati. :)

Entri 564

“What doesn’t kill you simply makes you… stranger.”

~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight)

.

Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka paragraf awal tulisannya. Barangkali cara ini juga dimuat dalam tips and trick buku paket Bahasa Indonesia untuk SMA atau Panduan Cara Menulis yang Baik dan Benar.

Standar.

Tipikal.

Tapi toh orang-orang tetap menggunakannya.

Ada yang bisa menggunakannya dengan baik, sehingga kutipan itu jadi pembuka yang menyentuh bagi romantisme essay yang ditulisnya, ada juga yang menggunakannya dengan buruk sehingga membuat kutipan itu jadi tidak berharga dan cuma seperti tambalan bagi baju kusam yang sudah digerogoti kutu busuk.

Tentunya yang menentukan baik atau buruknya penggunaan itu berdasarkan standar saya. Atau standar Anda, yang membaca.

***

Secara teknis, blog di WordPress ini sudah dibuat sejak Juni 2006. Tapi saya telantarkan hingga setahun setelahnya, April 2007, karena sebelumnya saya sempat selingkuh dengan Blogspot.

Sudah kurang lebih tiga tahun saya menulis tanpa tujuan yang jelas. Menulis tulisan yang bisa dilacak di internet hingga WordPress.com bangkrut, tidak laku, atau Archive.org sudah tidak bisa menyimpan rekam jejak tingkah laku yang ditinggalkan manusia-manusia yang menjalin hubungan dengan internet. Hah, apa ini maksudnya saya mau pamer pengalaman blogging? Tentu tidak, karena tiga tahun itu bukan apa-apa dibandingkan bloger senior seperti mas Catshade, misalnya. Tiga tahun saya pun tidak sepenuhnya tiga tahun, masih bolong-bolong.

Ini cuma sekedar pengingat.

Pengingat kalau orang seperti saya itu masih terlalu labil, masih berusaha mencari sesuatu yang bisa “dipegang”. Orang-orang seperti saya ini belum bisa menciptakan sesuatu yang dianggap orisinil, tapi merasa sudah berbuat demikian–bah. Orang-orang yang seperti saya ini, masih belum bisa memenuhi tanggung jawab sepenuhnya. Introspeksi? Tidak bisa dianggap begitu kalau cuma merenung tapi tidak mengubah diri jadi lebih baik, kesannya sia-sia–tidak berguna. Tapi itu terserah Anda.

***

Ini tahun 2009. Ini sudah tahun 2009.

Kata orang, sebentar lagi kiamat. Tiga tahun lagi kiamat; beritanya begitu heboh sampai-sampai orang gemar menggambarkan akhir hidup mereka sampai diabadikan dengan film yang berjudul “tahun kiamat” itu sendiri.

Kata orang, “kiamat sudah dekat”. Kalau kata adik saya, “kok dari dulu kiamat sudah dekat melulu ya?”. Seharusnya, “kiamat makin dekat, bukan sudah dekat. Kalau dari dulu sudah dekat, kenapa nggak kiamat-kiamat?” Begitu katanya.

Kiamat atau bukan, ya itu bukan urusan saya. Tidak harus membuat saya jadi tobat juga. Masa tobat cuma dimotivasi karena kiamat, kok kesannya kasihan juga si Amat, dia datang malah bikin orang tobat ketakutan.

Halah.

Tapi paragraf barusan itu memang semi-serius. Kenapa orang cuma kembali ke agamanya masing-masing kalau sedang terancam kematian?

Yah, barangkali itu untuk kontemplasi lain kali saja. Saya tidak begitu tertarik membahas kiamat dan kematian, mau menentukan Tuhan itu seperti bagaimana saja sudah repot.

Setidaknya, secara pribadi, di tiga tahun menjelang gembar-gembor kiamat ini, saya mendapat pengalaman yang baru. Secara teknis, baru. Baru, tapi bukan berarti menyenangkan. Memang tiap hari orang mendapatkan hal yang baru–seharusnya, seimanen apa pun hari yang dialami orang itu. Karena itu ungkapan “sejarah berulang” itu agak omong kosong, karena sepersis apa pun “plot” dalam “sejarah yang berulang”, “tokoh”nya tidak mungkin persis sama.

Saya merangkul “pengalaman baru” yang, tidak seperti cerita menye-menye ABG labil yang suka didokumentasikan di jurnal pribadinya, tanpa sengaja tidak terekam dalam blog saya. Seperti yang sudah saya bilang, tidak biasanya hal itu tidak saya catat di blog ini seperti halnya berbagai katarsis yang sudah-sudah. Salahkanlah Plurk, bila memang perlu mengkambinghitamkan sesuatu. Pengalaman itu, di satu sisi, memang menyenangkan.

Tapi saya juga kehilangan berbagai hal. Berbagai ‘hal’ yang secara emosional terikat dengan saya. Yah, lebih dari ‘hal’, sebenarnya. Lebih dari sekedar ‘hal’.

***

“What doesn’t kill you simply makes you… stranger.”

Sebelum menutup karir hidupnya, Heath Ledger meninggalkan kesan. Kesan yang terupa dalam wujud film: The Dark Knight, populer pada akhir tahun 2008. Kutipan itu adalah yang diucapkan oleh The Joker, tokoh yang ia perankan, merupakan alter dari kutipan Friedrich Nietzsche.

Tahun ini, ada berbagai hal yang memang tidak membunuh saya, dan barangkali membuat saya jadi terlihat lebih aneh. Lebih sinis, lebih blak-blak-an? Seperti misalnya dengan mengatakan tidak ada alasan untuk jadi cengeng dan menye bertahun-tahun hanya karena permasalahan cinta antar pasangan lain jenis/sesama jenis.

Atau barangkali jadi terlihat lebih banyak membual?

Seperti halnya entri ini. Bukannya mengkomemorasi hari ini dengan sebaris kalimat sederhana saja, atau sebuah gambar kue — kwetiau sih harusnya — sebagai peringatan, saya justru menghadirkan omong-kosong panjang lebar seperti ini. Siapa pula yang mau baca? Sebagian orang mungkin akan memilih untuk melompati bacaan tidak berguna ini dan melompat ke kolom komentar. Atau justru langsung menutup halaman yang sedang ia baca dan membuka bacaan lain yang lebih bermanfaat.

Tapi, yah, kekonyolan semacam ini yang membuat saya masih terus menulis omong-kosong tak bermakna ini. Kekonyolan untuk memperingati hari ini. Tanggal 16 November.

Untuk ditertawakan tahun berikutnya. Ditertawakan sambil bertanya-tanya dalam hati, “kenapa saya gemar sekali membuat onggokan omong-kosong seperti ini?”

Yah, seperti halnya sekarang saya menertawakan entri setahun dan dua tahun yang lalu.

***

Tahun ini mungkin awal tahun saya bertambah tua dengan lebih hampa daripada sebelumnya. Dan pastinya begitu pula tahun-tahun berikutnya. Makin lama makin hampa, hingga akhirnya saya harus menutup umur saya dengan hampa pula. Entah kapan tanggal pastinya.

Karena tahun ini merupakan pertanda bahwa saya sepenuhnya diakui sebagai suatu individu, maka tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu lagi dalam ulang tahun berikutnya. Perayaan-perayaan berikutnya hanyalah penanda, pengingat bahwa akhir hidup saya semakin dekat. Bahwa saya semakin mendekati liang lahat.

Dan sejauh ini tidak ada yang bisa saya hasilkan. Seorang Severn Suzuki, pada umur 12 tahun, bisa membuat para anggota PBB terdiam begitu mendengar pidatonya. Itu terjadi 19 tahun yang lalu. Sementara saya, di umur yang sudah setua ini, bahkan tak bisa membuat Pak RT di rumah sebelah bertepuk tangan. Ya tentu saja karena saya memang jarang bermain ke rumah Pak RT, kecuali beberapa tahun silam ketika ayah masih bisa mengemban tugas sebagai Pak RT.

Heheh, tentunya ini bukan bicara tentang saya yang butuh motivasi atau hiburan — tidak, hanya saja, lucu bisa mencela diri sendiri yang memang tidak pernah sempurna. Dan bila ini diteruskan, barangkali bisa tidak ada habisnya.

Hidup memang menyulitkan, merepotkan.

As for that, enjoy it while it lasts.

Saya pun harus tunduk pada ungkapan di atas, untuk menikmati hidup selama masih bisa hidup. Meskipun sedetik napas berikutnya berarti selangkah maju ke depan mendekat ke akhir hayat.

Selamat malam.

Terima kasih sudah membaca.

Dan, seperti tahun lalu, sebuah emoticon senyum yang biasa digunakan orang entah untuk berbasa-basi atau memang senyum tulus yang tersungging ketika menulis akhir paragraf, kembali saya gunakan pada akhir tulisan ini. :)

http://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/

I Call Your Name

It took me a month to do what I have promised (did I actually promise something? :P ); might have been hard for me to write a post for this blog. My preference seem to have switch over micro-blogging and foru–wait, what the hell. With those crap in mind, I will never update this blog again for eternity.

Cut the crap. In short, above paragraph means I actually am back to my daily basis (of blogging); I hope so do too with my regular blog-walking. As a start, I’d like to give some film review. Well, I’ve just watched Bleach the Movie 3: Fade to Black, and while it’s still hot in my mind, I guess it’s better to write up some commentaries regarding the film.

I realize my lack of proper knowledge hinders me from writing a good entry in English, but I have the intention to write this entry in a language most people could understand I’m not talking about SEO, so please do apologize.

Well, if you don’t mind, please click this link to continue.

Ploork.

microblog

Meskipun saya tidak melulu berbagi cerita mengenai hal-hal yang saya lakukan seperti bermain dengan kucing atau menaiki kereta listrik tiap pagi, tapi saya seringkali menuangkan ide-ide yang terlintas di kepala via micro-blog. Sisi buruknya: ide-ide itu cenderung masih mentah dan tidak dipikir lagi seperti halnya jika saya menulis via blog. Soalnya, nggak kayak micro-blog, bagi saya blog itu kan dibaca orang banyak, masuk Google pulak, malu lah kalo dibaca tapi jelekan ladang berpikir dan berbagi ide saya, jadi harus dikemas sebaik mungkin. :)

Halah.

Bersamaan dengan minat saya yang kembali naik untuk berpartisipasi roleplaying pada beberapa forum seperti halnya dua tahun yang lalu, maka saya memutuskan untuk kembali ke ranah blog yang sempat saya tinggalkan beberapa waktu. Yaa yaa, saya memang sempat menulis entri penuh harapan dan doa bahwa saya telah kembali, tapi ternyata cita-cita yang mulia hanyalah tinggal cita-cita, jadi saat ini saya datang untuk memperbaiki keadaan.

Yaah, hitung-hitung latihan nulis lagi, deh. Mengasah kemampuan halus (?). Tidak ada salahnya juga, kan.

Ngomong-ngomong, setelah saya lihat lagi beberapa entri di blog, agak aneh juga rupanya saya tidak mendokumentasikan kegiatan emo-whining saya via blog seperti biasanya. Mungkin karena terlalu sok-sibuk atau entah apa, tapi yang jelas salah satu pengalaman penting saya dalam mengarungi lautan hidup malah tidak terdokumentasikan dalam blog ini yang biasanya tertulis dalam kategori sastra (curcol lewat puisi; katarsis yang tak biasa dimengerti). :lol:

Apa pun lah. Pokoknya dengan ini mudah-mudahan saya tidak sekedar jadi micro-blogger saja. :mrgreen:

PS: untuk komen-komen yang nyangsang pada saat saya hiatus… maaf ya, saya tinggalin sedemikian lama. Semoga bisa dibalas ketika mood-nya sudah datang. :)

Kerak Terol

Alkisah, pada bulan September lalu, karena melempar komentar pada entri yang ditulis oleh seorang kawan, blog saya sempat dikunjungi sesosok troll. Sebenarnya bukan hanya saya, tapi juga bloger lain yang kebetulan juga menjadi teman segenggongblognya.

Troll ini cukup rajin, dan tampaknya cukup berkelas jika dibandingkan troll yang ramai berkeliling waktu itu. Tulisannya dibalut dengan kapitalisasi dan pungtuasi yang rapi, bahasanya juga bukan bahasa kelas cecunguk yang berkata seenak mulutnya mereka. Tapi, namanya juga troll; mau bagaimana rapi pun penulisannya, isi komentarnya ya tidak jauh-jauh dari isi komentar yang bisa diberikan oleh troll.

Bedanya, yang patut diberi nilai positif dari troll ini adalah ia berani menggunakan nama asli — lebih-lebih, nama lengkap pula! :o Apakah untuk menunjukkan besar ketidakmaluannya dalam berkomentar (mengingat pada saat itu banyak troll yang muncul dengan nama samaran) atau ada alasan lainnya, saya tidak tahu. Ya marilah berpikir positif saja.

Syahdan, dengan didatangi komentator dengan rupa-rupa demikian, maka langsung lah saya membuka mesin pencari. Memang sudah jadi kebiasaan saya untuk melacak orang-orang yang suka mengeluarkan komentar panas; kalau-kalau ternyata dia punya blog atau halaman pribadi sendiri, setidaknya saya bisa tahu seperti bagaimana pola pikirnya. Apalagi yang ini pakai nama asli. Mestinya lebih mudah.

Dengan bekal mesin pencari maha sakti serta nama lengkap dari si troll, tadinya saya kira saya akan menemukan beberapa halaman yang akan menyibak identitas si pembuat masalah. Tak dinyana, ternyata dugaan saya salah besar.

Si troll ini rupanya kurang populer.

Selain halaman yang tertaut ke WordPress.com, hanya satu hasil pencarian yang menunjukkan halaman lain. Tampaknya seperti sebuah majalah online. Atau semacamnya. Disitu terpampang nama yang bersangkutan (sebutlah, N.A.D.) sebagai pembuat desain kover. Selain dua hal itu, tidak ada lagi hasil pencarian yang menunjukkan identitas yang bersangkutan. Beberapa variasi pencarian sudah dicoba, tapi hasilnya tetap nihil.

Ya sudahlah, saya pun menyerah. Barangkali memang bukan rezeki saya untuk mengenal lebih lanjut rupa-rupa makhluk ini. Nama itu pun terlupakan… dan tergantikan dengan troll-troll pasaran lainnya yang selalu menggunakan nama samaran.

Hari demi hari pun berganti…

Musim demi musim berganti…

Hingga akhirnya, selang sepuluh bulan setelah peristiwa naas itu, mendadak sebuah komentar mendarat di salah satu entri yang pernah diludahi oleh sang troll perkasa.

Selayaknya seorang bloger yang baik, saya baca saja komentar yang baru masuk kandang saya itu. Tapi, tanpa sengaja, kembali saya melihat komentar sesosok troll yang namanya hampir tersapu dari ingatan saya. Atas dasar keisengan, saya coba lagi saja melakukan pencarian. Biarpun menyebalkan dan namanya nyaris terlupakan, setidaknya keberanian (atau kecerobohan?) troll yang satu ini cukup berkesan untuk menyisakan lekat kekaguman di hati saya. Jadi, siapa tahu kali ini ketemu.

Dan apa yang terjadi?

Nama lengkap sang tersangka terpampang dengan jelas pada suatu situs jejaring sosial — yang sepuluh bulan lalu tampaknya belum menjamah jangkauannya. Apalagi kalau bukan situs hasil pengembangan Mark Zuckerberg: Facebook.

Langsung saja saya klik, dan tersibaklah wajah dari si tersangka yang sedang memunyungkan bibir a la film horor. Tak kurang lagi, dapat pula dilihat lingkaran pergaulannya dari teman-teman yang ada dalam daftar temannya. Agaknya, walaupun kurang populer di dunia maya (dengan nama aslinya), setidaknya makhluk ini cukup digemari di dunia nyata.

Sekilas saja saya melihat profil tertutupnya, karena toh memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat.

Lalu? Apa yang saya lakukan setelah berhasil menemukan sosok misterius yang pernah menyentuh hati saya karena trollingnya?

Ya tidak ada. :lol: Niat awal untuk melihat bagaimana pola pikirnya terlanjur kandas karena saya sudah tak begitu tertarik lagi. Kalau pun masih, keterbatasan yang ia berikan di profil Facebook-nya membuat saya harus menambah orang itu sebagai teman dulu. Merepotkan.

Apa tidak kepikiran merencanakan ‘balas dendam’? Tidak berguna juga sih, buat saya. Troll memang menyebalkan dan sangat tidak berguna diajak berdiskusi, tapi toh mereka juga manusia. Mungkin pada saat itu emosinya sedang labil. Mungkin beberapa hari sebelum itu ia baru kehilangan barang kesayangannya, sehingga ia tidak bisa tenang dalam berkomentar. Atau apa pun lah.

Yang jelas, setidaknya saya tidak perlu khawatir jika lain kali didatangi troll serupa. :P

What Is This?!

Before

.

.

.

After

:arrow: :D :? :cool: :cry: 8O :evil: :!: :idea: :lol: :mad: :mrgreen: :neutral: :?: :razz: :oops: :roll: :sad: :smile: :o :twisted: :wink:

.

.

.

.

.

DO NOT WANT

DO NOT WANT

Quo Vadis?

Saya tidak tahu persis apa saja yang telah saya lakukan selama enam bulan belakangan. Yang jelas, apa pun hal itu, telah menyebabkan blog ini jadi sangat terbengkalai. Beberapa waktu lalu saya masih sempat menanggapi komentar yang masuk pada entri lama mengenai “Islam dan Nazi“, tapi mendadak kemudian terhenti.

Ini cuma catatan singkat penanda saja. Saya tidak tahu apakah saya akan kembali melakukan aktivitas rutin di blogsofer — karena janji waktu itu ternyata hanya jadi bualan belaka. Saya juga tidak tahu apakah masih bisa menulis tulisan yang bisa dibaca oleh bloger lain.

Tapi yang jelas saya masih senang menulis. Dan berinternet.

Hingga detik ini, saya lebih mudah ditemui di Plurk dan Facebook. Jadi kalau-kalau blog ini tiba-tiba kosong, mungkin saya lagi ada di antara kedua situs itu. ;)

Nama yang Tidak Efisien

Pengguna internet yang aktif berseliweran ke berbagai komunitas — sebutlah forum board, blog, layanan social-networking, atau yang lainnya — biasanya punya username tersendiri. Entah apakah username itu diambil dari nama asli atau rekaan sendiri untuk identitas dunia maya. Ada yang panjang, ada yang pendek. Nama seperti “Xaliber”, misalnya, nama yang saya ambil sebagai identitas tetap di dunia maya, cuma terdiri atas nama depan (nama panggilan) saja.

Tapi ada kalanya nama depan saja tidak cukup. Ada yang menambahkan nama belakang (seperti nama marga) atau titel-titel tertentu. Misalnya username seperti “Xaliber von Reginhild” yang menambahkan nama belakang, atau “Swordsmaster Xaliber” yang menyandang gelar.

Tampaknya terdengar bagus, tapi pada prakteknya tidak efisien. Alasannya jelas: merepotkan buat ditulis. Apalagi jika itu tertanam di URL; seperti nama blog atau username di situs semacam Plurk dan Politikana. Dampaknya berakibat tidak hanya pada si empunya nama, tapi juga orang lain. Nama-nama yang panjang begitu menyulitkan penulisan yang cepat, terutama jika mesti ditulis lewat media yang tak memfasilitasi keyboard (misal: handphone). Belum lagi jika pada kasus forum board, nama-nama demikian bisa menerobos tembok pada tampilan forum.

Nama yang Menyebalkan

Jenis username yang menyebalkan.

Padahal mestinya tidak perlu jadi semenyebalkan itu. Apalagi kalau si pengguna internet itu dikenal memiliki identitas nama yang tetap dan tidak berubah. Daripada menggunakan nama yang panjang lebar, mengapa tidak diringkas menjadi satu patah kata saja?

Ya, mari berbaik sangka. Mungkin ada nama yang memang mesti dimuat secara lengkap; tidak bisa berdiri sendiri. Karena kalau dipotong hanya jadi satu kata akan terdengar ganjil atau kehilangan makna aslinya. Nama seperti “South Camellia”, misalnya. Jika dihilangkan salah satu katanya, maka artinya akan berbeda. Arti “Kamelia di Selatan” itu hanya akan menjadi “Kamelia” atau “Selatan” saja jika salah satu kata dihilangkan.

Lain halnya dengan nama yang bisa berdiri sendiri. “Ryogo Habata” misalnya. Terdengar seperti bahasa Jepang, tapi artinya tidak jelas. Masing-masing kata pun bisa berdiri sendiri, cukup dengan “Ryogo” atau “Habata” saja. Penulisan username secara lengkap sebagai identitas pun menjadi tidak terkesan penting. Apalagi kalau sekedar ikut-ikutan saja. Malah merepotkan. Begitu pula dengan nama “Xaliber von Reginhild”. Buat apa dipanjang-panjangkan kalau bisa diringkas menjadi “Xaliber” saja?

Tapi jadinya akan subyektif sekali.

Menentukan penting-tidaknya kekomplitan suatu nama pada akhirnya ya kembali ke empunya masing-masing. Nama seperti “Ryogo Habata” bisa saja didalihkan menjadi plesetan dari nama sendiri — yang menurut empunya penting dan tidak bisa dipisah-pisah, tentu. Dan nama seperti “South Camellia” bisa saja dipisah menjadi “Camellia” saja jika empunya merasa itu sudah cukup menggambarkan identitas dirinya.

Menjengkelkan? Apa boleh buat, toh kita tidak sedang hidup di bawah pemerintahan yang meminta homogenisasi nama. Sebagai yang bukan empunya nama ya pada akhirnya hanya bisa komplain saja.

Bersyukurlah manusia menciptakan cache pada browser dan fitur copy-paste (sayang yang kedua belum ada pada handphone). Puji Tuhan.

Halaman Berikutnya »


Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,872 soldiers