Quo Vadis?

Saya tidak tahu persis apa saja yang telah saya lakukan selama enam bulan belakangan. Yang jelas, apa pun hal itu, telah menyebabkan blog ini jadi sangat terbengkalai. Beberapa waktu lalu saya masih sempat menanggapi komentar yang masuk pada entri lama mengenai “Islam dan Nazi“, tapi mendadak kemudian terhenti.

Ini cuma catatan singkat penanda saja. Saya tidak tahu apakah saya akan kembali melakukan aktivitas rutin di blogsofer — karena janji waktu itu ternyata hanya jadi bualan belaka. Saya juga tidak tahu apakah masih bisa menulis tulisan yang bisa dibaca oleh bloger lain.

Tapi yang jelas saya masih senang menulis. Dan berinternet.

Hingga detik ini, saya lebih mudah ditemui di Plurk dan Facebook. Jadi kalau-kalau blog ini tiba-tiba kosong, mungkin saya lagi ada di antara kedua situs itu. ;)

Nama yang Tidak Efisien

Pengguna internet yang aktif berseliweran ke berbagai komunitas — sebutlah forum board, blog, layanan social-networking, atau yang lainnya — biasanya punya username tersendiri. Entah apakah username itu diambil dari nama asli atau rekaan sendiri untuk identitas dunia maya. Ada yang panjang, ada yang pendek. Nama seperti “Xaliber”, misalnya, nama yang saya ambil sebagai identitas tetap di dunia maya, cuma terdiri atas nama depan (nama panggilan) saja.

Tapi ada kalanya nama depan saja tidak cukup. Ada yang menambahkan nama belakang (seperti nama marga) atau titel-titel tertentu. Misalnya username seperti “Xaliber von Reginhild” yang menambahkan nama belakang, atau “Swordsmaster Xaliber” yang menyandang gelar.

Tampaknya terdengar bagus, tapi pada prakteknya tidak efisien. Alasannya jelas: merepotkan buat ditulis. Apalagi jika itu tertanam di URL; seperti nama blog atau username di situs semacam Plurk dan Politikana. Dampaknya berakibat tidak hanya pada si empunya nama, tapi juga orang lain. Nama-nama yang panjang begitu menyulitkan penulisan yang cepat, terutama jika mesti ditulis lewat media yang tak memfasilitasi keyboard (misal: handphone). Belum lagi jika pada kasus forum board, nama-nama demikian bisa menerobos tembok pada tampilan forum.

Nama yang Menyebalkan

Jenis username yang menyebalkan.

Padahal mestinya tidak perlu jadi semenyebalkan itu. Apalagi kalau si pengguna internet itu dikenal memiliki identitas nama yang tetap dan tidak berubah. Daripada menggunakan nama yang panjang lebar, mengapa tidak diringkas menjadi satu patah kata saja?

Ya, mari berbaik sangka. Mungkin ada nama yang memang mesti dimuat secara lengkap; tidak bisa berdiri sendiri. Karena kalau dipotong hanya jadi satu kata akan terdengar ganjil atau kehilangan makna aslinya. Nama seperti “South Camellia”, misalnya. Jika dihilangkan salah satu katanya, maka artinya akan berbeda. Arti “Kamelia di Selatan” itu hanya akan menjadi “Kamelia” atau “Selatan” saja jika salah satu kata dihilangkan.

Lain halnya dengan nama yang bisa berdiri sendiri. “Ryogo Habata” misalnya. Terdengar seperti bahasa Jepang, tapi artinya tidak jelas. Masing-masing kata pun bisa berdiri sendiri, cukup dengan “Ryogo” atau “Habata” saja. Penulisan username secara lengkap sebagai identitas pun menjadi tidak terkesan penting. Apalagi kalau sekedar ikut-ikutan saja. Malah merepotkan. Begitu pula dengan nama “Xaliber von Reginhild”. Buat apa dipanjang-panjangkan kalau bisa diringkas menjadi “Xaliber” saja?

Tapi jadinya akan subyektif sekali.

Menentukan penting-tidaknya kekomplitan suatu nama pada akhirnya ya kembali ke empunya masing-masing. Nama seperti “Ryogo Habata” bisa saja didalihkan menjadi plesetan dari nama sendiri — yang menurut empunya penting dan tidak bisa dipisah-pisah, tentu. Dan nama seperti “South Camellia” bisa saja dipisah menjadi “Camellia” saja jika empunya merasa itu sudah cukup menggambarkan identitas dirinya.

Menjengkelkan? Apa boleh buat, toh kita tidak sedang hidup di bawah pemerintahan yang meminta homogenisasi nama. Sebagai yang bukan empunya nama ya pada akhirnya hanya bisa komplain saja.

Bersyukurlah manusia menciptakan cache pada browser dan fitur copy-paste (sayang yang kedua belum ada pada handphone). Puji Tuhan.

Agama

Agama itu

Seperti kartu seluler

Masing-masing bersaing

Beradu siapa yang paling efisien

Siapa yang paling hemat

 

Agama itu

Seperti kartu seluler

Kadang selalu ada yang bersikeras

Menganggap kartunya yang terbaik

Menghina yang lain dengan nista

Kadang melempar cerita bohong yang tidak benar

 

Agama itu

Seperti kartu seluler

 

Dan Tuhan

Seperti businessman; orang penting

Yang punya banyak telepon buat dihubungi

 

 

Entri ngasal di kala gundah… entahlah.

Partai Berlambang Yahudi

Assalamualaikum saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.SATIR!

Hari ini ana menulis di blog membawa suatu kenyataan yang barangkali pedih bagi kita semua. Begini, saudara-saudaraku yang seiman dan seperjuangan. Ana menemukan suatu bukti nyata yang menunjukkan betapa telah kita disesati oleh suatu partai politik di Indonesia…

Suatu bukti yang nyata lagi memilukan…

Ramble

Catatan Tentang Militansi

“For to win one hundred victories in one hundred battles is not the acme of skill. To subdue the enemy without fighting is the acme of skill.” ~ Sun Zi

Sudah lama berselang sejak Israel dan Palestina pertama kali terlibat dalam konflik. Sampai di hari terakhir pada tahun 2008 ini pun, publik masih dibuat heboh dengan berita ini.

Pada umumnya publik Indonesia cenderung mendukung gerakan Palestina; secara humanisme, common enemy dalam hal politik, maupun karena solidaritas keberagamaan. Tapi saya bukan pendukung gerakan Palestina, pun begitu juga tidak saya dukung Israel. Saya coba melihatnya lewat sudut pandang kiranya lebih netral.

Klik untuk lanjut. »

Saya Belum Mati

Ya, saya sudah lama tidak kelihatan di kawasan blog saya sendiri. Hilang entah kemana. Tapi saya belum mati karena tertabrak truk atau penyakit jantung kronis. Saya masih hidup.

Dari suatu wacana yang pernah saya baca mengenai tips menjadi bloger yang baik, adalah hal yang direkomendasikan dengan tidak mengatakan bahwa sang bloger malas memperbaharui isi blognya atau akan cuti sejenak. Tidak juga dengan menulis entri pemberitahuan bahwa ia telah kembali setelah melalui derita panjang. Menurut si penulis, tulisan-tulisan semacam itu cuma akan menunjukkan ketidakseriusan sang bloger dalam mengurus blognya. Dan mengenai pemberitahuan telah kembali, come on, who the hell would care? Pengunjung mau tulisan berkualitasmu, bukan curhatanmu!

…tapi, jujur saja, saya tidak peduli sama tips yang satu itu. :P Buktinya saya masih menulis ini. Untuk kadar blog personal, rasanya tidak apa-apa juga kalau mau nulis kayak begituan. Asal nggak dibumbui hate speech sih menurut saya nggak apa-apa.

Jadi, kemana saja saya beberapa hari ini setelah protes soal kekejaman terhadap hewan?

  1. Tugas, dan… UAS.
    Sebenarnya saya belum banyak tugas. Atau mungkin banyak, tapi saya nggak ngerasa. Mangkanya saya sebenarnya suka bingung kalau ditanyain “kuliah sibuk nggak?”. Soalnya kalau lagi nggak ngerjain tugas saya nggak ngerasa sibuk, tapi begitu ngerjain — sedikit saja — rasanya sibuk sekali. :P Cuma, memang, karena UAS, kegiatan saya agak terganggu. Saya cuma sempat ngeplurk. Sama buka Fesbuk. Sama ngutak-ngatik script PHP. Sama tidur 6 jam — belum termasuk tidur di malam hari.
  2. Forum Bleach Indonesia
    Saya sudah sempat bilang bahwa saya punya kewajiban mengurus suatu forum. Berhubung beberapa hari sebelum beberapa hari ini tampaknya saya agak menelantarkannya, maka saya coba mengurusnya lebih intensif lagi. Mungkin nggak disadari oleh para membernya, tapi yakinlah bahwa administratornya selalu ada disitu, mengawasi. :cool:

    …oke, mungkin tidak sebegitunya. Tapi saya sedang berusaha untuk memunculkan sesuatu yang baru disana. Memunculkan sesuatu yang menarik bagi para member.

  3. Xaliber.NET
    Ya, betul, demikianlah saya akuisisi domain xaliber.net. Domain tersebut ialah penanda bahwa saya adalah Xaliber asli, pertama di Indonesia! Dan semua Xaliber lain yang ada di dunia adalah palesu. Dengan adanya domain tersebut, apakah saya akan berpindah ke hosting blog mandiri? Oh, tidak. :?

    Ya ya, semua orang tahu bahwa BoTD sucks. Orang-orang yang bisa menghasilkan entri berkualitas pun pindah ke hosting mandiri. Tapi kalau semuanya pindah, bagaimana nasib BoTD? Masa bakal jadi tempat pembuangan akhir sampai tendensi tulisan bloger Indonesia bisa berubah? Nah, dengan latar belakang itu, saya berniat meramaikan BoTD dengan entri yang nggak bernuansa sama. Mungkin trefik saya nggak sebegitu besarnya, dan entri saya memang nggak seberkualitas bloger senior yang lain. Tapi toh tak ada salahnya mencoba. Pun begitu dulu saya pernah masuk BoTD juga. :cool:

Nah, berkaitan dengan alasan nomor tiga, dengan ini saya proklamirkan berdirinya URL http://general.xaliber.net! Artinya, blog ini sekarang bisa diakses dengan link itu. Memang sih, saat ini masih mengandalkan fitur domain masking. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya akan usahakan DNS untuk terwujud. Kalau dirasa URL yang baru tidak nyaman, URL yang lama (http://deathlock.wordpress.com) pun masih bisa diakses, jadi tenang saja. Sudah tersedia pula sedikit utak-atik di sidebar untuk penyegaran tampilan, juga penanda baru buat subscribe RSS kalau-kalau diantara Anda ada yang berkenan subscribe blog ini. :)

Demikianlah kisah pembuka saya. Dan berhubung saya terhitung libur dari tanggal 16 Desember 2008 sampai awal Februari 2009, maka saya akan mencoba aktif kembali di blogosfer. :D

Sekian dan terima kasih.

Hewan dan Acara TV

Hewan dan Acara TV

Beberapa hari yang lalu, saya sedang menelusuri saluran-saluran TV yang tersedia pada layar kaca hingga tanpa sengaja menemukan suatu acara. Acara tersebut bertema tentang cinta terhadap keluarga (atau semacamnya, saya lupa), dan tampaknya host-nya adalah dua orang kemayu berbadan besar.

Satu sesi dari acara tersebut menampilkan “permainan” di mana seseorang mesti mengambil beberapa ekor lele dari akuarium kecil untuk membentuk simbol “love” (hati, maksudnya) dengan tiga lele-lele yang diambil dan diletakkan di atas meja tadi.

Saya tidak tahu bagaimana di negara berkembang lain, tapi di Indonesia kok kayaknya menyakiti hewan di berbagai acara TV — entah itu di acara TV abalan seperti ini, sinetron, atau bahkan sekaliber film layar lebar — masih dapat diterima sebagai tontonan yang wajar-wajar saja ya? Bahkan kalau di konteks acara TV, menyakiti hewan seperti lele itu dianggap sebagai permainan yang menarik.

Sering saya menemui suatu adegan di mana hewan dianggap hanya sekedar alat. A tool of the trade, just that. Kalo dipakai, kadang tanpa toleransi (disiksa hidup-hidup atau dipenggal hidup-hidup), dan kalau sudah nggak terpakai, ya tinggal dibuang begitu saja.

Sebegitu arogannya kah kita, memperalat hewan seakan-akan nyawanya tak berarti? Bukannya mereka juga makhluk-makhluk yang diciptakan Tuhan, sama-sama punya nyawa dan kesempatan untuk hidup? Setidaknya, jikalau mereka mesti mati, tak bisakah untuk kebutuhan yang beralasan dan dengan cara yang baik pula?

One and Seven

I did not realize the day to come until my family (parents and a brother, not less) congratulates me at 00:00 AM. Heck, I thought much about tomorrow just a few hours ago and it came even before I realize in full consciousness.

Maybe it was because I do not really want it. Or, at least, not expecting it to come this fast.

One and seven. Two digits of number which considered as sacred for it has become some kind of mark of adulthood. I do think in some ways that might be true; for a legal age to be recognized as a Indonesian (by having identity card) is seventeen. One and seven.

One may celebrate this age in full appreciation, as we know in “sweet-seventeen party” in glamour, while others might prefer some contemplations or simple appreciation. But I am not. I do not appreciate this day of birth as much as others would do.

For me, the mark of seventeen means more weight of responsibilities to lift. You know the things; technical stuffs as driving license to moral responsibilities as an adult. People will expect you to act as an adult, no more childishness. And now, were I ever murder some random people out there, I would be thrown in jail, a real jail, not the children one. Full of criminals, not to mention homosexuals. Duh.

Well, the chance is possibly small, but just in case. Who knows if some random terrorist organization abducted and brainwashed me for their toy to blow the Embassy of USA up?

Talking about birthdays will always lead me to talk about coin of fate. Surviving the day until this second means someone out there — might be God or might be my scientifically healthy body (or might be just my luck) — have been letting me to breath this long though asthma still nests in my lungs. In other way, surviving it means walking closer to death

I am not scared of anything (in this context), but I suppose things like this should be done in more… pleasant way. Not with any huge glamorous party, instead, I prefer something which could left impression. Perhaps one which can be remembered until I saw The Death on my deathbed. For that complete perfection, I hoped the seven and one numbers would come more late than it would be, but sadly time won’t wait. It passes on like it ever care for anyone.

Well, I see no other things I could say, unlike I did on last year. I just want to thank my family, for caring and spending their whole time for someone like me. My friends, for spicing up this pointless life (afterlife is pointless after all) with all your controversial yet supportive behaviours. My beloved equipment; my old Nokia 6630, eyeglasses, and Toshiba Satellite M300. And you, whoever you are, who has spend your time to read my blog and drop a comment, I do appreciate your doing.

…the paragraph above sounds cliche. But oh well. What done is done, and unfortunately I am not able to turn back the time. May it let me to be wise, to be useful, to contribute to the society.

It is 1:11 AM now.

God bless you. :)

Halaman Berikutnya »


Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 96,644 soldiers