Selebrasi Diri

Sejujurnya menyiapkan tulisan yang dikhususkan untuk hari-hari tertentu seperti ini tidak selalu mudah, bagi saya. Ada kalanya memang ada yang ingin disampaikan, tapi ada kala lain di mana hari itu ya berlalu begitu saja seperti hari-hari lainnya. Bisa jadi karena memang tidak ada yang spesial, bisa jadi karena sebenarnya ada–tapi terlanjur terbenam di kesibukan lain yang sudah mendahului dari hari-hari sebelumnya. Kalau melihat dari tulisan yang dimaksudkan untuk selebrasi tanggal 16 November saja, ada yang cukup thoughtful seperti yang saya tulis tahun lalu, tapi ada pula yang lainnya yang bisa membuat dahi mengernyit lantaran kurang nyaman dibaca (apa sebenarnya  tujuannya saya menulis seperti itu?).

Saya tidak ingin menyalahkan social media/social network sites, meski memang harus diakui bahwa waktu saya untuk berselancar di internet bisa dibilang hampir 50%-nya direbut oleh aktivitas di situs-situs tersebut. Berbeda dengan menulis di blog ini, menulis di media macam itu tak perlu banyak berpikir panjang; lempar saja apa yang ada di pikiran, kalau ternyata susunan kalimatnya seburuk rupa Ephialtes, atau gagasannya seamburadul tulisannya John dari Edessa, tak jadi masalah karena bisa langsung dikoreksi atau dikritik kemudian.

Bukannya saya bilang blog ini tak bisa dijadikan sarana diskusi atau koreksi atau kritik; tentu saja bisa, seperti yang sudah berlangsung selama ini, tapi selain memerlukan gagasan yang lebih matang, penuturan kata per paragraf pun sebaiknya juga mesti saya tulis agar bisa dipahami. Lain dengan Twitter misalnya, yang tak perlu alur yang terlalu baik. Toh juga kultwit juga tidak bisa dibilang enak dibaca. :P Biasanya saya memang memfasilitasi situs-situs macam itu untuk merampungkan hal-hal yang masih sangat mentah; bila blog ini macam Starbucks (karena sudah tak ada lagi yang minum di warkop), mungkin anggapannya situs-situs itu macam berdialog dengan diri sendiri ketika membuang hajat (komparasinya jelek sekali memang, tapi kira-kira seperti itu). Dan lagi, update status macam itu bisa dilempar secara berurutan tanpa perlu mempunyai korelasi sama sekali antara satu sama lainnya.

Jadi ketika saya memutuskan untuk menulis lagi di blog ini untuk selebrasi tahunan, saya mesti berpikir dulu dengan jernih: apa yang mau saya sampaikan, apa yang mau saya tulis?

Sayangnya memang berhubung sudah tidak menulis secara reguler lagi (selain merampungkan skripsi yang ditulisnya juga seenak maunya saja), kemampuan saya terasa agak-agak mandul. Satu-satunya kegiatan menulis yang masih secara aktif dilakoni cuma bermain text-based RPG (sebenarnya saya kurang nyaman dengan istilah ini, lebih nyaman menyebutnya sekedar roleplay) di beberapa forum saja. Sebutlah forum yang saya urus, Gotei13 RPF. Dan beberapa forum lain. Meski sama-sama menulis, tapi gaya permainan di forum-forum seperti ini entah kenapa budayanya memang lebih berorientasi ke arah “bermain” ketimbang benar-benar menulis (seperti di blog).

Makanya menjadi cukup remarkable ketika saya menulis selebrasi yang masih bisa dibaca untuk beberapa tahun ke depan seperti yang saya tulis tahun lalu itu. Untuk itu–dan berbagai macam hal lainnya yang tak terhitung, tentu–mungkin saya harus berterima kasih sangat banyak pada pacar saya (sekarang sudah mantan), karena kalau menilai dari tulisan-tulisan selebrasi saja, cuma itu yang bisa dipandang cukup reflektif sebagai manusia (kalau meminjam ungkapan teman-teman, yang meluluhkan hati seorang robot :lol: ). Sekarang rasanya tumpul kembali, di-combo dengan hal-hal lain yang sudah saya tinggung di awal tulisan jadinya malah semakin buruk saja.

Padahal pada selebrasi kali ini, saya seharusnya sudah tidak bisa masuk penjara anak-anak lagi kalau berbuat kriminal; dan entah kenapa patokan umur macam ini selalu saya anggap spesial, mungkin karena terlalu sering terpengaruh oleh macam-macam budaya yang merayakan adulthood.

Mungkin, seiring dengan umur yang menginjak platform yang baru, blog ini juga akan saya bawa ke platform baru–hostingan sendiri. Selain supaya untuk memacu produktivitas menulis (rugi dong udah bayar masa ditelantarkan), meyeleksi tulisan-tulisan dan sortir kategori, juga karena kegatelan saya untuk mempersonalisasi wadah tempat saya menuangkan tulisan-tulisan ini. Yah bahkan toilet pun masih dipoles, apa salahnya kalau blog tidak? :D

…tapi tentunya ini masih wacana.

Satu, saya masih khawatir soal blog of the day (meski rasanya makin irelevan karena siapa sih yang masih mengandalkan fitur itu?) dan hasil search engine yang seringkali merujuk pada postingan-postingan mengecewakan di WordPress.com. Kedua, terbukti dari yang sudah-sudah, kalau saya bilang “saya akan mulai melakukan X lagi!” yang ada pastinya tertunda. :mrgreen:

Jadi lebih baik tidak dijadwalkan. :P

——

P.S.: …bahkan untuk mempublikasikan tulisan ini sendiri butuh jeda waktu yang sangat lama (29 November). Sudah di-draft sejak sebelum tanggal 16 November, tapi baru dipublikasi sekarang. Namun untuk menjaga konsistensi (dan memudahkan saya tracking) marilah kita sematkan pada tanggal 16 November 2012 saja ya? :mrgreen:

Entri 1015

Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.

Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu–yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, ibu juga membawa kue. Untuk dimakan bersama. Biasanya tidak habis di malam itu–meski porsi makan saya memang meningkat sejak 10 tahun terakhir–dan kuenya akan disimpan untuk esok hari. Siapa pun yang ingin santap cemilan, bisa mengambilnya di kulkas. Termasuk asisten rumah tangga di rumah, yang  sudah bekerja sejak saya lahir; serasa seperti kerabat sendiri.

Pagi dan siangnya, kadang saya akan menerima ucap senada. Pemberian selamat dari teman-teman sekolah yang tersenyum penuh rupa. Tentunya, selayaknya orang Indonesia, saat itu pula saya, seakan mematuhi peraturan tidak tertulis, perlu merogoh sedikit kocek dan menyenangkan ibu-bapak penjaga kantin–paling tidak, dulu saya pikir begitu–yang tiba-tiba kedapatan pemesanan porsi makan lebih banyak. Tapi memang tidak selalu. Ada tahun-tahun di mana hari seperti ini berlalu begitu saja sekolah. Begitu juga bila hari seperti ini terjadi di hari libur, Sabtu dan Minggu.

Read the full post »

Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan

Viva la Revolucion..?

Viva la Revolucion...?!

Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (social media; macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara Social Media Festival di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula International Conference on Social Media Cultures di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya diberi kesempatan untuk menghadiri (bersama Lemon S. Sile).

Dari Sabtu kemarin (24/9) hingga entri ini ditulis (26/9), saya lihat di timeline Twitter masih ramai membahas tentang pengaruh besar media sosial. Maka dari itu, pikir saya, mungkin untuk sekedar menambah perspektif tentang riuh-rendah media sosial masih belum terlalu terlambat. Lagipula, supaya blog ini tidak melompong melulu (beberapa waktu lalu juga sempat ditagih bung reinhart :P ).

Saya hendak menyoroti satu aspek yang nampaknya jadi salah satu alasan kenapa media sosial nampak begitu besar pengaruhnya bagi kemaslahatan umat manusia: social media activism. Aktivisme melalui media sosial.

Read the full post »

Balada [Mencoba] Blogging Kembali

Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah menulis materi baru lagi di blog. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal satire PKS atau jenggot teori Darwin). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs microblogging macam Plurk dan Twitter.

Februari kemarin sempat coba menulis lagi, tapi gagal di tengah jalan. Cuma satu entri dihasilkan (sebenarnya dua, dengan satu disclaimer); blogwalking pun tiada dijalankan. Padahal tidak afdhol itu blogging kalau tidak blogwalking; ibaratnya cuma meracau di kamar sendiri saja.

Pasalnya, [mencoba] blogging lagi setelah vakum berbulan-bulan itu ternyata, bagi saya, memang sulit. Terutama karena saya melanjutkan blog lama.

Lalu…? >>>

Al-Qaeda, Osama bin Laden, dan Riwayat Singkatnya

“Kover majalah TIME bulan Mei 2011″

Hari Senin, awal Mei kemarin, Osama bin Laden diumumkan tewas. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti @benny_israel (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira cukup beralasan kalau muncul sejumlah kecurigaan atas kematian bin Laden (walau saya tidak sepakat dengan argumen-argumennya).

Kontroversi dan berbagai praduga seputar kematian bin Laden bukan yang ingin saya bahas kali ini; sebaliknya, saya kira justru lebih relevan kalau memperjelas dan mengenal siapakah sebetulnya si Osama bin Laden ini.

Sebelum pengumuman tentang kematiannya, sering ada orang-orang yang menampik sosok bin Laden sebagai “buatan Amerika Serikat”; tapi dalam riwayat perjalanannya, bin Laden berinteraksi dengan berbagai orang, dari kerabat sampai wartawan. ‘Kan tidak mungkin orang-orang itu berhalusinasi sedang berinteraksi dengan bayangan imajiner bin Laden?

Jadi, mengikuti slogan khas lembaga dakwah, “tak kenal maka ta’aruf”, mari telusuri dulu perjalanan hidup si America’s Public Enemy #1 ini.

Read the full post »

Valentine dan Fatwa Basi yang Membosankan

Kemarin itu, seperti biasanya Google mengubah tampilan logonya di laman depan pencarian bila ada hari raya atau ada perayaan keberhasilan/kelahiran tokoh penting yang mencetak nama di sejarah. Karena kemarin itu tanggal 14 Februari, jadi tampilan yang diberikan adalah untuk selebrasi hari Valentine.

“Merah terang yang membutakan”
Skrinsyut dari Telegraph

.

Warnanya memang bikin sakit mata. Daripada menambah minus mata, jadilah saya coba klik saja logonya; sekedar penasaran seperti biasanya, hasil pencarian apa yang timbul kalau klik dari logo tersebut (Google selalu memberikan kata pencarian yang sesuai dengan tema yang diselebrasikan).

Read the full post »

DISCLAIMER

.

.

Starting from 2011, anything written before 2010 may or may not reflect the author’s current views. Consider this disclaimer as a sort of new refurnishing, as I am too attached to this blog (and not opted to move to a new one). :P

.

~xaliber

.

.

.

.

Sepotong Kebijakan dari MPS

Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi katanya juga ada di Biologi), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata kuliah yang bernama Metode Penelitian Sosial (MPS).

Di salah satu pembahasan mengenai metode kuantitatif, dibahas mengenai cara membuat kuesioner. Ya, bagi yang belum tahu, metode kuantitatif ini memang erat kaitannya dengan kuesioner, data-data survei, sampel, dan–menurut kesan sebagian orang–angka. :) Penelitian metode kuantitatif melibatkan peneliti hanya sebagai peneliti. Ia tidak bersifat seperti metode kualitatif, di mana sang peneliti harus melibatkan dirinya bersama dengan “yang diteliti” melalui observasi langsung, misalnya. Perkara detil lebih lanjutnya, itu cerita lain untuk saat ini. :P

Kembali ke topik.

Untuk membantu membuat kuesioner yang akurat, peneliti dianjurkan untuk membedakan tipe-tipe dari isi pertanyaan yang akan ia ajukan menjadi lima bagian: behaviour, beliefs, knowledge, attitudes, dan attributes. Jadi, suatu pertanyaan itu ada tipe-tipenya sendiri; tipe pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan tipe jawaban yang berbeda pula. Masing-masing sudah dibagi dalam lima bagian tersebut.

  • Tipe pertanyaan behaviour menyelidiki “apa yang responden lakukan”. Pertanyaan ini didesain untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh responden. Contoh mudahnya, pertanyaan seperti “apakah Anda bekerja di perusahaan swasta?” termasuk tipe pertanyaan behaviour.
  • Tipe lainnya, yaitu tipe belief, didesain untuk menyelidiki “apa yang responden percaya”. “Yang mereka percaya” dalam hal ini bukanlah mengenai kepercayaan atau agama mereka, namun lebih mengenai “apa pandangan mereka akan suatu hal”. Pertanyaan “apakah Facebook memengaruhi prestasi anak?” adalah contoh pertanyaan belief.
  • Tipe pertanyaan knowledge menyelidiki “apa yang responden ketahui”. Pertanyaan tipe ini ingin melihat pengetahuan responden mengenai situasi-situasi tertentu, misalnya seperti, “apa yang Anda ketahui tentang kebijakan kenaikan harga BBM?”
  • Sementara, tipe pertanyaan attitude ingin mengetahui “apa yang diinginkan oleh responden”. Pertanyaan jenis ini melihat tanggapan responden mengenai “sebaiknya bagaimana” dalam melihat kasus-kasus tertentu–ia menyelidiki bagaimana responden melihat orang lain secara umum. “Apakah single-parent sebaiknya bekerja?” adalah contoh pertanyaan attitude.
  • Terakhir, tipe pertanyaan attribute menanyakan data diri dari si responden. Ibaratnya game RPG, ia menanyakan level, status STR, VIT, DEX, dan AGI responden. :P Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan umur, tingkat pendidikan, atau tingkat pendapatan adalah tipe pertanyaan attribute.

***

Nah, dalam pembahasan kelima hal tersebut, saya menemukan satu poin yang agak “menyentil”. Dalam buku karya David de Vaus yang saya baca tersebut, pada bagian pertanyaan behaviour, dituliskan oleh si penulis,

“[...] Tapi, peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran behaviour untuk mengukur belief dan attitude. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...] karena orang bisa jadi tidak memiliki kesempatan untuk bersikap seperti apa yang mereka inginkan.”

Pertama kali membaca paragraf tersebut, tidak ada yang terbesit di benak saya. Biasa saja. Tapi setelah membaca kedua dan ketiga kalinya… hei, benar juga ya? :?

Mari terlebih dahulu kita lepaskan diri kita dari kerangka “akademis”. :) Lupakan sejenak bahwa hal ini dipelajari dalam suatu mata kuliah–yang notabene membuat sebagian orang jenuh karena pakem-pakemnya–dan anggaplah sebagai bacaan biasa. Lima tipe tadi, jangan dianggap sebagai “tipe-tipe pertanyaan dalam membuat kuesioner”.

Pada dasarnya, lima tipe pertanyaan tadi–yang menurut saya filosofis–sebenarnya justru dapat menuntun bagaimana kita sebaiknya menilai orang lain. Tipe-tipe pertanyaan tersebut bukan semata “alat” yang digunakan untuk membantu pembuatan kuesioner demi penelitian saja, tapi rupanya juga bisa digunakan di kehidupan sehari-hari! :o

Mengapa demikian?

Mari kita lihat kembali peringatan yang ditulis oleh David de Vaus dalam bukunya itu, seperti yang telah saya kutip di atas.

“[...] peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran behaviour untuk mengukur belief dan attitude. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...]“

Apa yang bisa disimpulkan dari pernyataan tersebut?

Sederhana saja: suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya. David de Vaus mencontohkannya sendiri dengan sederhana: pengukuran behaviour tidak bisa digunakan untuk mengukur belief dan attitude. Ibarat mau mengukur kecepatan cahaya, yang digunakan malah rumus untuk mengukur massa benda.

Bila masih terlalu abstrak, mari kita gunakan contoh. :) Ambil lah persoalan behaviour itu tadi. Katakanlah, si Bambang terdaftar di suatu Kerohanian Islam. Ini berarti, secara behaviourial (apa yang Bambang lakukan), Bambang adalah anggota Kerohanian Islam. Nah, tapi, apakah fakta bahwa Bambang terdaftar sebagai anggota Rohani Islam berarti serta-merta hal tersebut memengaruhi belief (pandangan) dan attitude (sebaiknya bagaimana) Bambang? Memang, asumsinya, seorang anggota Rohis mestinya memiliki belief dan attitude yang bernuansa Rohis pula. Tapi faktanya?

Oh, belum tentu! :mrgreen:

Banyak faktor mengapa si Bambang mendaftar ke dalam Rohis. Memang, bisa jadi, motivasi agama adalah salah satunya–dan barangkali yang paling sering ditengarai orang. Tapi, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain. Seperti, misalnya, ternyata teman-teman Bambang ingin mendaftar jadi anggota Rohis. Karena itu si Bambang ikut-ikutan. Atau, si Bambang ini ingin menambah pengalaman berorganisasi, dan kebetulan yang paling gampang adalah dengan jadi Rohis. Atauuu, di Rohis ini ada gadis cantik muda belia yang Bambang senangi; jadi, supaya lebih mudah PDKT, kenapa tidak jadi Rohis juga? :mrgreen:

Bila dilihat, kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa dibilang hampir sama sekali tidak ada hubungannya dengan organisasi itu sendiri: agama. Lha, iya, yang lainnya itu kan pengaruh psikologis dan sosiologis semua. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Oleh karena itu, si Bambang yang anggota Rohis ini, belum tentu akan bersikap seperti yang diasumsikan oleh orang lain layaknya anggota Rohis. :D

Nah, itu satu hal contoh dari behaviour. Apakah tipe lain seperti knowledge, attitude, atau attribute juga bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari? Tentu saja bisa!

Kita ambil contoh knowledge. Misalnya saja, si Rudi ini mengetahui banyak hal mengenai Marxisme. Ditanya sejarah perkembangannya, dia lancar menjawab. Ditanya teori pos-Marxisme, dia fasih menjelaskan. Secara knowledge (apa yang diketahui), si Rudi mapan. Nah, tapi, apakah serta-merta pengetahuannya itu menjadikannya seorang Marxis–atau bahkan komunis? Oh belum tentu.  Secara behaviour, ia tidak tergabung di partai buruh manapun. Belief-nya malah sangat liberal; mendukung pasar bebas! :mrgreen:

Contoh lain: attribute. Yang ini lebih sederhana lagi. Bila ada seorang beragama Islam (attribute-nya Islam), apakah ia pasti berarti menganggap khilafah Islamiyah cocok bagi Indonesia (belief-nya Islam politik)? Apakah ia pasti berarti ikut organisasi Islam (behaviour-nya organisasi Islam)? Atauuu, apakah bila ada seseorang berattribute agama Yahudi, apakah ia pasti memiliki belief Zionisme Yahudi? :mrgreen: Belum tentu, ‘kan?

Begitu pula dengan belief dan attitude. Orang dengan belief Facebook dapat membuat orang malas belum tentu knowledge-nya tentang Facebook sedikit–ia bisa jadi sangat ahli; atau orang dengan attitude merasa bahwa sebaiknya anak SMA tidak menyontek juga belum tentu behaviournya tidak menyontek–karena alasan apapun.

***

Demikian, sesi pembelajaran metode penelitian kuantitatif pada mata kuliah MPS justru mengingatkan saya pada satu hal: bahwasanya kita tidak bisa menilai orang semata dari salah satu karakteristiknya. Yah, meminjam ringkasan bahasa de Vaus sendiri: “suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya”. ;)

Seorang koruptor bisa jadi memiliki pandangan ideal mengenai keadilan dan kesejahteraan negara, namun terpaksa terjerat dalam lingkar korupsi karena lingkungan memaksanya berbuat begitu. Seorang yang berjenggot tebal dan panjang bisa saja semata memanjangkan jenggotnya itu karena tren, bukan karena ia seorang pengunjung mesjid yang rajin. Seorang yang tidak tahu-menahu mengenai agama selain Islam, belum tentu ia berarti jadi seorang radikal yang membenci umat agama lain. Seorang yang mendukung gerakan sejuta Facebooker di Facebook belum tentu benar-benar berpandangan sesuai dengan visi gerakan itu, bisa jadi ia hanya ingin numpang komentar atau asal menerima ajakan saja. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya…

Sudahkah Anda memastikan metode pengukuran Anda sesuai hari ini? :)

Retraktil

Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar — bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis menuju Jum’at ini hanya sekedar pergantian hari biasa — seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang spesial sama sekali. Kalau bagi sebagian lainnya lagi, ini pertanda umur bumi makin tua, umur kita makin tua pula. Pertanda semakin berkurangnya sisa waktu hidup di dunia.

Para sebagian dari sebagian-sebagian itu setidaknya sepakat–terlihat demikian–untuk setuju pada satu pertanyaan (atau pernyataan) yang sama: untuk apa merayakan tahun baru?

Dua tahun lalu, ketika itu saya masih SMA. Barangkali sudah bagai ritual tahunan keluarga, saya biasa berkumpul di rumah nenek bersama saudara-saudara lainnya, menunggu bersama hari berganti sembari menyalakan kembang api. Tapi dua tahun lalu, atas inisiatif ayah, saya –kami– merayakannya dengan sedikit berbeda, yaitu pergi ke tempat lain. Di mana orang merayakannya dengan makan dan, mungkin seperti yang dikatakan oleh yang merasa relijius, berfoya-foya.

Saya biasanya tidak melihat ritual tahun baru a la keluarga selain sebagai kebiasaan; bila tidak dilaksanakan, maka rasanya tidak nyaman. Terutama perihal kembang apinya. Itu saja. Demikian, saat itu saya tak melihat inti dari diadakannya “ritual” yang agak berbeda. Dan saya pun saat itu bertanya-tanya, untuk apa merayakannya dengan berpesta?

Mungkin pertanyaan demikian juga yang terlintas, bila merasa perayaan tahun baru–apapun wujudnya–tak dirasa perlu. Perihal tidak perlu memeringati umur yang berkurang, tidak perlu memeringati akhir yang sudah dekat, atau merasa bahwa pergantian hari ini sama artinya dengan pergantian hari lain. Mungkin.

Dua tahun yang lalu itu, saya bertanya-tanya. Untuk apa perayaan tahun baru. Dan ayah saya yang menjawab. “Orang merayakan tahun baru,” ujarnya, “untuk berharap, supaya tahun yang datangnya dirayakan dengan meriah dan semenyenangkan itu, bisa berjalan semeriah dan semenyenangkan itu pula. Sampai tahun berikutnya datang lagi.”

Saya awalnya tidak begitu meresapi kalimat beliau. Tapi saat ini saya kira ayah ada benarnya. Bila tahu bahwa dengan tahun baru umur kita akan berkurang, bahwa hidup di tempat ini tak bisa selamanya, maka setiap kali hal itu –pasti– akan datang, sambutlah dengan gembira. Untuk menghadapi hal tak terelakkan itu dengan gembira pula. Tentu, dengan cara masing-masing. Dengan kembang api, dengan berpesta, dengan berjalan-jalan, dengan berzikir, atau dengan berdoa. Karena apa yang menggembirakan satu orang belum tentu berlaku pada yang lainnya.

Tahun yang akan datang ini, bagi saya, akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu semangat menolong persiapan tahun baru, yang biasa merekam awal tahun, sudah tak bisa melakukan kebiasaannya. Alasan untuk bersedih diri tapi tak semestinya dilakukan, karena, perayaan tahun baru tidak ditujukan supaya membentuk tahun yang sedih. Namun justru sebaliknya.

Selamat tahun baru 2010.
Semoga segala hal yang tak diinginkan tertinggal di saat sebelumnya.
Semoga segala hal yang lebih baik menyambut di saat berikutnya.

Salam. :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 684 pengikut lainnya.